KKB Nduga Bunuh 11 Warga Sipil: Sebelas Nama di Jalan Batas Batu
Sebuah jalan di pegunungan Papua, sebuah truk yang berangkat pagi, dan sebelas orang yang hanya ingin bekerja. Halaman ini menceritakannya seperti sebuah cerita, tetapi tidak ada satu pun nama dan angka di dalamnya yang kami karang.
Foto: Dok. Humas Polda Papua, dipakai dengan kredit
Di pegunungan Papua ada sebuah jalan yang menghubungkan Kenyam dengan sebuah tempat bernama Batas Batu. Jalannya sempit, berbatu, dan berkelok mengikuti lereng. Setiap pagi truk-truk kayu menuruni jalan itu untuk mencari penumpang: orang yang mau berjualan, orang yang mau bekerja, orang yang mau pulang ke kampung.
Ini bukan dongeng. Setiap nama, tanggal, dan kalimat di halaman ini datang dari dokumen, kesaksian, pemberitaan, dan pengakuan orang yang menembak. Semuanya pernah terjadi, dan seorang pendeta tidak pulang ke rumahnya karena itu.
Pagi yang Baik untuk Berangkat Kerja
Pagi itu dimulai seperti pagi lain di Kenyam. Kabut masih menempel di lereng, dan truk-truk kayu sudah berbaris menunggu muatan. Seorang sopir mengecek ban. Seorang pedagang menghitung uang kembalian di kantong plastik. Di kejauhan seseorang menyalakan mesin, dan asap tipis naik ke udara dingin.
Truk yang berangkat pagi itu membawa pedagang, sopir, dan tukang bangunan. Mereka bukan orang yang punya musuh. Mereka orang yang punya utang, punya anak, dan punya pekerjaan yang harus selesai hari itu.
Ada yang membawa beras untuk dijual. Ada yang membawa alat tukang di dalam karung. Ada yang cuma membawa uang kembalian dan janji akan pulang sore.
Truk yang Berhenti di Tempat yang Salah
Sekitar lima puluh meter di depan, jalan itu berhenti. Dua puluh orang berdiri di tengah. Tiga membawa senjata panjang. Satu membawa pistol berwarna perak.
Di Nduga, setiap sopir tahu satu hal yang tidak perlu diajarkan dua kali. Kalau ada orang bersenjata berdiri di tengah jalan, kamu berhenti, kamu turun, dan kamu berdoa. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan memutar. Hutan di kiri dan kanan bukan tempat untuk berlari.
Pukul 09.15 Waktu Indonesia Timur, Sabtu 16 Juli 2022, tembakan itu dimulai.
Polisi menyebutnya penembakan membabi buta. Seorang saksi menyebutnya rentetan yang tidak mau berhenti. Dan ketika semuanya berhenti, orang-orang yang masih hidup berlari ke arah yang berbeda-beda, karena itulah yang dilakukan manusia ketika tidak ada satu pun arah yang benar-benar aman.
Sebelas Nama, Sebelas Alasan untuk Pulang
Yulius Watu berumur dua puluh tiga tahun. Ia datang dari Desa Ulubelu, Kabupaten Ngada, di Pulau Flores. Ia anak sulung, dan adik-adiknya kembar, dua-duanya perempuan. Ayahnya, Hilarius Wuli, menyimpan satu ingatan yang ia ulang setiap kali ditanya: anak ini tidak pernah mencubit atau marah kepada adik-adiknya.
Yulius tidak melanjutkan kuliah. Ia merantau ke Papua, seperti ribuan pemuda dari Flores, Toraja, Selayar, dan Maluku sebelum dia. Ia mengirim uang ke rumah, dan itulah sebabnya ia ada di atas truk pagi itu.
Hubertus Goti juga dari Ngada. Keluarganya menyiapkan Natal tahun itu dengan satu kursi yang disimpan untuknya. Kursi itu tetap kosong.
Daeng Marannu berumur empat puluh dua tahun, dari Selayar, dan orang-orang memanggilnya ustaz. Taufan Amir, empat puluh dua tahun, juga dari Selayar. Johan berumur dua puluh enam tahun, dari Manggarai. Alex, empat puluh lima tahun, dari Kei, Maluku. Nasjen, empat puluh satu tahun. Yuda Nurusinga, empat puluh dua tahun.
Mahmud Ismaun berumur lima puluh tahun, dan ia yang biasa mengantar Bupati Nduga ke mana-mana.
Lalu ada Eliaser Baye. Ia berumur lima puluh empat tahun, seorang pendeta Gereja Kemah Injil Indonesia di Kampung Yereitma, Distrik Pija. Ia sedang di Nduga untuk konferensi gereja, dan sebelum pulang ia ikut menumpang di jalan itu. Ia meninggalkan seorang istri dan enam anak.
Jenazahnya tidak diterbangkan bersama yang lain. Ia dimakamkan di Kenyam, di tanah tempat ia melayani. Jemaatnya mengantar sampai ke pemakaman, lalu pulang dengan satu pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab: kenapa seorang pendeta harus mati di jalan itu?
Dan yang kesebelas ditemukan dua hari kemudian, tidak jauh dari jalan yang sama: Roy Manampiring, seorang pekerja konstruksi. Ia tidak sempat pulang, dan namanya tercatat paling akhir karena tubuhnya ditemukan paling akhir.
Sebelas orang. Sebelas nama. Semuanya punya alasan untuk pulang.
Empat Tempat, Empat Arah Lari
Ketika aparat menyisir lokasi, mereka tidak menemukan satu tempat kejadian. Mereka menemukan empat.
Satu jenazah di jalan dekat truk. Tiga di dekat sepeda motor. Enam di dekat warung kelontong, tiga meter dari titik pertama. Satu lagi di belakang warung. Yang terakhir ditemukan di tanjakan, di pinggir jalan, tidak jauh dari mobil bupati.
Empat tempat itu bercerita tentang empat arah lari. Tentang orang yang meninggalkan truk lalu berlari ke warung, berharap dinding kayu bisa menghentikan peluru. Tentang orang yang mencoba kembali ke jalan. Tentang orang yang memilih tanjakan, karena di sanalah mungkin ada pohon.
Sejumlah korban tidak hanya ditembak. Polisi menyebut sebagian mengalami luka benda tajam. Mereka dibacok sebelum atau sesudah peluru masuk.
Di dalam truk, seorang pria bernama Sudarmin, tiga puluh enam tahun, warga Selayar, berbaring di bak. Ia tidak berlari. Ia menempelkan tubuhnya ke dasar kayu dan berharap tidak ada yang menoleh ke belakang. Dari sana ia mendengar rentetan tembakan, satu per satu, dari arah jalan.
Ia hidup. Ia menceritakan apa yang ia dengar, dan ceritanya itu menjadi satu-satunya suara dari dalam truk yang sampai kepada kita.
Sepuluh orang tewas di tempat dan dua lainnya kritis. Yang kesebelas ditemukan dua hari kemudian, ketika aparat menyisir lokasi: seorang pekerja konstruksi bernama Roy Manampiring. Jumlah korban menjadi sebelas tewas dan dua luka.
Orang yang Mengaku, dan Alasan di Balik Pelatuk
Empat hari kemudian, seseorang mengaku. Bukan dalam bisikan, bukan lewat perantara. Ia bicara kepada media, dengan namanya sendiri.
Namanya Egianus Kogoya, komandan Kodap III Ndugama Derakma. Ia menceritakan pagi itu seperti orang menceritakan pekerjaan yang selesai. Pasukannya masuk ke Kenyam. Mereka mengibarkan bendera Bintang Kejora di Nogolait pada pukul 08.30.
Lalu ia menyebut satu detail yang menjelaskan semuanya. Dari truk, katanya, ia melihat seorang warga diam-diam mengambil foto dan video. Ia mencurigainya mata-mata. Karena itu ia menembaknya.
Satu orang mencurigakan. Satu jari di atas pelatuk. Dan sebelas orang mati di empat tempat berbeda dalam satu pagi yang sama. Begitulah cara sebuah kecurigaan berubah menjadi pembantaian: tanpa perintah, tanpa pengadilan, tanpa satu pun kesempatan untuk menjelaskan diri.
Warga Distrik Paro dievakuasi menuju Kenyam setelah teror kelompok bersenjataWarga Distrik Paro dievakuasi ke Kenyam setelah aksi teror kelompok bersenjata dan pembakaran pesawat. Jarak Paro ke distrik terdekat ditempuh 4-5 hari dengan berjalan kaki.Foto: Humas Polda Papua / Tribratanews Polri, dipakai dengan kredit
Egianus tidak berhenti di situ. Ia menyampaikan satu kalimat yang seharusnya dibaca ulang oleh siapa pun yang menganggap ini kecelakaan perang. Siapa pun mereka, katanya, apakah warga sipil, karyawan, pekerja, apakah orang Papua atau non-Papua, kami tidak akan berkompromi.
Dalam pernyataan lain, ia menyebut korban-korbannya sebagai intelijen Indonesia yang menyamar sebagai karyawan proyek dan penjaga kios. Ia juga menyebut pendeta yang ia tembak dengan satu kata: mata-mata.
Seorang Jenderal Menjawab dengan Kalimat Pendek
Tiga hari setelah pembantaian, di Jayapura, seorang jenderal berdiri di depan wartawan. Namanya Brigadir Jenderal TNI Juinta Omboh Sembiring, Komandan Korem 172/Praja Wira Yathi. Ia tidak berbicara tentang perang. Ia berbicara tentang siapa korban itu sesungguhnya.
Mereka ini, katanya, bukan orang-orang yang sering disebut sebagai intel dan lain sebagainya. Tidak ada. Alat negara tidak ada. Mereka ini adalah pelaku-pelaku ekonomi.
Pedagang. Sopir truk. Tukang bangunan. Orang yang membangun Nduga dengan cara paling sederhana yang bisa dilakukan manusia: dengan bekerja, menjual barang, mengantar penumpang, memasak, dan menanam.
Di Jakarta, dua lembaga yang biasanya tidak sepakat dalam banyak hal sepakat di satu titik. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyebut perbuatan itu kejahatan luar biasa. Amnesty International Indonesia meminta negara mengusut tuntas, dan mengatakan hal yang jarang diucapkan terus terang: jika kelompok ini menganggap perjuangannya bagian dari perang kemerdekaan, tidak seharusnya ia menyerang penduduk, terlebih karena Papua bukan zona perang.
Gereja-gereja di Indonesia meminta pemerintah membentuk tim investigasi independen. Permintaan itu datang dari meja-meja gereja yang kehilangan satu pendetanya di jalan Kenyam dan Batas Batu.
Beberapa hari kemudian, dari mulut juru bicara kelompok yang sama, keluar ancaman yang melengkapi seluruh cerita ini. Orang Indonesia, katanya, entah guru, perawat, pegawai apa pun, dilarang masuk wilayah itu. Kami siap tembak.
Yang Terjadi Sebelum Pagi Itu
Bila kita membaca hanya satu peristiwa, Nogolait terasa seperti bencana. Bila kita membaca seluruh berkasnya, ia berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk: sebuah kebiasaan.
Satuan tugas keamanan mencatat enam puluh lima aksi kekerasan oleh kelompok yang sama sejak 2017. Tiga di antaranya pembantaian warga sipil. Yang pertama di kompleks Bandara Kenyam pada 2018, tiga warga tewas.
Yang kedua pada Desember 2018, ketika sembilan belas pekerja proyek jembatan Trans-Papua di Distrik Yigi dibunuh di atas bukit setelah dipaksa berbaris. Yang ketiga adalah pagi di Nogolait.
Di antara keduanya ada satu peristiwa yang jarang dikutip karena terlalu berat untuk ditulis cepat. Pada Oktober 2018, kelompok ini menyandera lima belas sampai enam belas guru dan tenaga kesehatan di Distrik Mapenduma. Seorang guru diperkosa secara bergilir.
Alasan yang mereka pakai sama dengan alasan di Nogolait. Orang-orang itu dituduh mata-mata, dan kesalahan mereka adalah membawa sekolah dan puskesmas ke wilayah itu.
Pada Oktober 2020, seorang karyawan perusahaan di Kenyam bernama Yulius Wetipo ditembak mati saat bersepeda motor ke tempat kerja. Pada Februari 2023, lima belas pekerja pembangunan puskesmas di Distrik Paro diancam akan dibunuh, lalu harus dievakuasi. Pada Agustus 2023, tiga warga sipil tewas di Kampung Yasoma; truk mereka dibakar setelah mereka dianiaya.
Kabupaten yang Perlahan Jadi Sunyi
Lalu datang akibat yang tidak pernah masuk hitungan siapa pun. Kabupaten itu perlahan dikosongkan.
Ombudsman RI mencatat lebih dari lima ribu pengungsi Nduga di Wamena pada 2019, dengan perkiraan total sekitar empat puluh lima ribu orang tersebar di kabupaten sekitar. Delapan distrik dilaporkan tidak lagi berpenduduk.
Dua puluh empat sekolah di sebelas distrik berhenti berjalan. Sejumlah puskesmas dan posyandu tidak berfungsi. Sembilan puluh delapan gereja berdiri tanpa jemaat. Di Wamena, sebuah sekolah darurat menampung tujuh ratus dua puluh tiga anak yang belajar di bawah atap gereja, jauh dari kampung mereka.
Dari Mana Peluru Itu Dibeli
Sekarang bagian yang paling tidak nyaman, bukan bagi pemerintah, tetapi bagi siapa pun yang mengaku berjuang untuk rakyat Nduga.
Peluru itu tidak turun dari langit. Ia dibeli. Dan sebagian uangnya berasal dari tempat yang tidak bisa dibela oleh siapa pun.
Pada Agustus 2022, seorang kepala kampung di Nduga, berinisial TL, mengungkapkan hal itu kepada penyidik. Ia menyerahkan seratus lima puluh juta rupiah yang bersumber dari dana desa untuk membeli amunisi bagi kelompok pimpinan Egianus Kogoya. Seorang aparatur sipil negara berinisial AN ditangkap aparat karena membawa enam ratus lima belas butir amunisi, dan amunisi itu, menurut penyidik, akan diserahkan kepada kelompok bersenjata di Nduga.
Bacalah kalimat itu sekali lagi, dengan tenang. Uang desa. Dana yang seharusnya menjadi jalan, sekolah, atau air bersih. Dibayarkan untuk peluru yang dipakai menembak warga desa.
Kenyam punya peran lain dalam cerita ini. Kepala Kepolisian Resor Nduga menyebutnya pusat logistik kelompok itu. Dari foto saja, ia mengatakan terlihat paling sedikit dua puluh dua pucuk senjata di tangan mereka.
Dua anak buah Egianus pernah ditangkap di Kenyam dengan senapan Ferfrans, peluncur granat Pindad kaliber empat puluh milimeter, dan tiga ratus sebelas butir amunisi. Salah satu dari mereka disebut aparat sebagai pengendali logistik, khususnya amunisi.
Kenyam hanyalah ujung kecil dari rantai yang jauh lebih panjang. Pada Maret 2025, aparat membongkar jaringan yang membeli senjata seharga satu koma tiga miliar rupiah dari luar Papua, untuk diserahkan kepada kelompok bersenjata di Puncak Jaya.
Yang disita: tujuh belas pucuk senjata, tiga ribu lima ratus tujuh puluh tiga butir amunisi, dan uang tunai tiga ratus enam puluh sembilan juta rupiah. Senjata itu dirakit di Bojonegoro, lalu dikirim melalui Surabaya ke Jayapura.
Pada 2026, aparat membongkar jaringan berikutnya dan menemukan sesuatu yang jarang terlihat: nama-nama orang yang membayar. Dua di antaranya tercatat sebagai penyumbang, masing-masing menyetor seratus dua puluh dua juta rupiah dan tiga belas juta rupiah. Satu transaksi senjata rakitan mencapai delapan puluh juta rupiah.
Harga-harga itu sudah lama terdokumentasi rapi dalam berkas pengungkapan. Amunisi seratus sampai lima ratus ribu rupiah per butir. Pistol lima belas sampai seratus juta rupiah. Senapan M16 atau M4 sembilan puluh sampai tiga ratus tiga puluh juta rupiah. Satu pengungkapan pada Juli 2022 mencatat lima puluh dua pucuk senjata, sembilan ribu enam ratus lima butir amunisi, dengan nilai keseluruhan tujuh koma dua miliar rupiah.
Ada juga pintu dari luar negeri. Pada Januari 2023, seorang warga negara asing bernama Anton Gobay ditangkap terkait pengiriman sepuluh senapan Colt AR-15 dan dua puluh magazen dari Filipina, dengan dukungan salah satu faksi bersenjata di Mindanao. Sebelumnya, aparat mencatat jalur Sangihe untuk senjata jenis UZI.
Dan ada satu sumber yang selama ini berada di depan mata semua orang. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan mendalami lebih dari tiga ribu rekening dana desa di Papua. Hampir sembilan puluh persen dananya ditarik tunai.
Pada 2021, lembaga yang sama memantau dana di DPRD Tolikara dan Pemerintah Kabupaten Puncak, setelah seorang warga tertangkap membawa tiga ratus tujuh puluh juta rupiah plus catatan bantuan enam ratus juta rupiah untuk kelompok Lekagak Telenggen. Kepala Kepolisian Daerah Papua menyebut sumber lain yang sama konkretnya. Hasil tambang emas ilegal di Paniai, Intan Jaya, dan Yahukimo, yang sebagian disetor kepada kelompok bersenjata.
Yang Tidak Kami Tulis
Setiap cerita punya bagian yang menggoda untuk dilebih-lebihkan. Cerita ini juga.
Kami menemukan dokumen tentang pembelian senjata, harga, dan nama-nama penyumbang. Kami tidak menemukan satu dokumen pun yang menghubungkan dana lembaga asing, penggalangan dana diaspora, atau hibah yayasan dengan pembelian senjata bagi kelompok di Nduga.
Penggalangan dana diaspora yang terdokumentasi nilainya kecil dan tercatat resmi: sebuah kampanye daring mengumpulkan tiga ribu tujuh ratus tiga puluh empat pound sterling dari delapan puluh satu penyumbang. Sebuah kampanye advokasi di Inggris terdaftar sebagai perusahaan mikro dengan penyokong yang disebut namanya, tanpa angka yang dipublikasikan.
Dugaan bahwa dana korupsi pejabat Papua mengalir ke kelompok bersenjata pernah disampaikan lembaga antikorupsi. Lembaga itu sendiri menyatakan kesulitan membuktikannya, dan pejabat yang dimaksud akhirnya dihukum delapan tahun bukan karena pendanaan kelompok bersenjata, melainkan karena suap dan gratifikasi.
Angka besar yang beredar tentang aliran dana di Papua juga perlu ditempatkan dengan benar. Total ratusan triliun rupiah yang pernah disebut lembaga keuangan menyangkut sektor tambang dan sumber daya alam secara nasional, bukan dana yang mengalir ke Nduga. Kami menolak memakai angka besar yang tidak berkaitan hanya karena terdengar mengerikan.
Kalau bagian ini terasa kurang keras, biarlah. Yang kami kejar bukan yang paling keras. Yang kami kejar adalah yang tidak bisa dibantah, karena cerita yang tidak bisa dibantah hanya punya satu kelemahan: ia benar.
Nasi untuk Dijual, dan Rencana untuk Pulang
Egianus Kogoya masih buron. Kepolisian Daerah Papua menerbitkan enam belas daftar pencarian orang terkait kelompok ini. Seorang mantan prajurit yang membelot dan bergabung pada Desember 2021 disebut aparat sebagai salah satu otak penyerangan. Namanya Yotam Bugiangge. Ia kini juga dicari.
Hingga cerita ini ditulis, tidak ada satu pun putusan pengadilan yang menyatakan siapa yang bertanggung jawab atas pagi di Nogolait. Tidak ada satu pun dokumen yang menunjukkan bahwa peristiwa itu pernah selesai secara hukum.
Undang-undang Indonesia menyediakan jalurnya. Undang-undang pemberantasan terorisme mengatur penyebaran ucapan atau tulisan yang menghasut dan berakibat tindak pidana terorisme. Undang-undang Pers mewajibkan verifikasi dan melayani hak jawab. Dewan Pers melarang pemberitaan yang memberi legitimasi atau mengglorifikasi pelaku.
Yang belum ada bukan hukumnya, melainkan keadilannya. Sebelas orang mati di jalan itu. Mereka bukan pasukan. Mereka tidak punya senjata. Dan mereka tidak pernah diberi satu menit pun untuk membela diri.
Cerita ini kami tutup dengan satu kalimat yang diucapkan seorang jenderal di Jayapura, karena kalimat itu menjawab semua tuduhan yang dipakai untuk membenarkan pembunuhan mereka. Mereka ini, kata jenderal itu, adalah pelaku-pelaku ekonomi. Bukan intel. Bukan alat negara. Bukan musuh dalam perang.
Dan kalau ada yang bertanya mengapa sebelas orang biasa harus mati di jalan pedalaman itu, jawabannya bukan pada apa yang mereka lakukan pagi itu. Jawabannya pada apa yang mereka bawa: nasi untuk dijual, uang kembalian, alat tukang, dan rencana untuk pulang.
Kronologi
Aksi pertama kelompok Egianus Kogoya menurut catatan aparat: pembunuhan pekerja Trans-Papua, Yovicko Sondakh, di Distrik Mugi.
Co-pilot Dimonim Air luka tertembak saat pesawat Twin Otter ditembaki di Bandara Kenyam.
Serangan di kompleks Bandara Kenyam: tiga warga sipil tewas, tiga luka, satu di antaranya pilot.
Lima belas sampai enam belas guru dan tenaga kesehatan disandera di Distrik Mapenduma; seorang guru diperkosa bergilir.
Sembilan belas pekerja proyek jembatan Trans-Papua di Distrik Yigi tewas; empat lainnya tidak ditemukan.
Yulius Wetipo (36), karyawan perusahaan, ditembak mati saat bersepeda motor ke lokasi kerja di Kenyam.
Sepuluh warga sipil tewas dan dua luka di Kampung Nogolait, Distrik Kenyam. Korban ditemukan di empat titik.
Jenazah kesebelas, pekerja konstruksi Roy Manampiring, ditemukan saat aparat menyisir lokasi.
Kepala Kampung Wusi menyerahkan Rp150 juta dana desa untuk pembelian amunisi kelompok Egianus; seorang ASN ditangkap membawa 615 butir amunisi.
Pilot Susi Air Phillip Mark Mehrtens disandera di Distrik Paro setelah pesawatnya dibakar.
Lima belas pekerja pembangunan puskesmas di Distrik Paro diancam akan dibunuh dan dievakuasi.
Dua anak buah Egianus ditangkap di Kenyam dengan senapan Ferfrans, peluncur granat Pindad, dan 311 butir amunisi.
Tiga warga sipil, termasuk dua ASN Kabupaten Nduga, tewas di Kampung Yasoma; truk mereka dibakar.
Phillip Mehrtens dibebaskan setelah sekitar sembilan belas bulan disandera.
Satgas Damai Cartenz membongkar jaringan senjata: 17 pucuk senjata, 3.573 butir amunisi, uang Rp369 juta; senjata dibeli Rp1,3 miliar dari luar Papua.
Jaringan Yalimo-Yahukimo dibongkar; dua penyumbang dana tercatat, OB (Rp122 juta) dan YP (Rp13 juta); 298 butir amunisi disita.
Dari 28 insiden yang kami dokumentasikan, 82 warga sipil Papua tewas. Sebagian diklaim kelompok bersenjata sendiri. Perusahaan di balik film yang mereka sebut membantu kampanye menerima hibah 251.983 dolar dari lembaga pimpinan George Soros.
39 sumber · 2026-10-09
Gambar: kanal Jubi TV di YouTube, film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (diunggah 22 Mei 2026)
Markas Pusat KOMNAS TPNPB memerintahkan seluruh wartawan memuat berita perang hanya dari satu pintu mereka, sehari setelah sebuah media Papua memuat pernyataan solidaritas untuk film yang kelompok itu sebut membantu kampanye operasi militer.
Rekaman yang diunggah 18 Agustus 2026 memuat seruan tembak terhadap Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, disertai larangan agar Pigai berhenti masuk Papua. Pernyataan tertulis yang menyertainya meminta PBB memasukkan namanya ke daftar hitam.
6 sumber · 2026-10-08
Foto: Satgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 (via papua60detik.id)
Selama tujuh bulan, penyidik Polda Papua menelusuri siapa yang membeli senjata, siapa yang menyumbang uang, dan siapa yang menyediakan peluru. Perkara yang bermula dari satu transaksi di pertigaan lampu merah Pasar Lama Sentani itu kini menyeret 17 tersangka, dengan barang bukti 298 butir amunisi, magazen SS1, satu senjata rakitan, dan enam laras senjata bekas Perang Dunia II.
24 sumber · 2026-10-07
Foto: Okezone, dimuat dalam laporan 4 Oktober 2026, dipakai dengan kredit
Pasukan gabungan TNI lebih dulu meminta kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya meletakkan senjata di hutan Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Sabtu malam 3 Oktober 2026. Jawabannya tembakan peluru tajam. Dua komandan mereka tewas, tidak ada prajurit yang terluka, dan Manfret Fatem melarikan diri. Dari lokasi, aparat mengamankan satu revolver, amunisi, radio komunikasi, dan dua lembar bendera Bintang Kejora.
45 sumber · 2026-10-06
Foto: WartaPlus (wartaplus.com), dipakai dengan kredit
Dari sebuah tempat di Papua Nugini, juru bicara TPNPB-OPM ini telah delapan tahun menyampaikan kalimat yang sama: kami bertanggung jawab, mereka mata-mata, dan kami akan melanjutkan. Feature ini menyusun kembali pengakuannya sendiri, lalu memeriksa dari mana uang untuk senjata itu benar-benar datang. Jawabannya bukan dari luar negeri. Berkas pengadilan menyebut oknum aparat, dana desa, tambang emas tanpa izin, dan pungutan kepada warga Papua sendiri.
80 sumber · 2026-10-06
Foto: TEDxSydney / Fe Lumsdaine (CC BY-SA 2.0), via Wikimedia Commons
Situs ini berdiri di sisi pemerintah Indonesia: Papua adalah bagian sah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan tidak ada satu pun negara di dunia yang mengakui “pemerintahan” yang ia deklarasikan. Dossier ini memeriksa klaim seorang figur di pengasingan terhadap dokumen publik — angka korban yang tak pernah terbukti, petisi yang tidak ada di Markas PBB, pembukuan yang tidak pernah dibuka — dan mencatat siapa yang membayar harganya di Tanah Papua.
90 sumber · 2026-10-06
Foto: Fajar Papua. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Selama 13 tahun ia mengantar penumpang dan logistik menembus jalur Trans Wamena–Nduga yang berat dan berbahaya, setiap hari mengorbankan dirinya demi bisa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Wamen-Nduga, namun pengorbanan itu tidak dianggap cukup berharga bagi TPNPB. Nyawanya direnggut, dicabik dengan sekejam itu. Pada 15 September 2026 ia dicegat di pertigaan Danau Habema, dipaksa mengucapkan dukungan bagi Papua Merdeka di depan kamera, lalu ditembak dan dibakar bersama mobilnya.
14 sumber · 2026-10-05
Foto: Dok. Istimewa via detikcom. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Satu guru meninggal dan enam luka di Distrik Anggruk, Yahukimo, pada Maret 2025. Di balik koreksi angka korban, ada pertanyaan yang jarang diajukan: uang layanan mengalir besar ke kabupaten ini, tetapi tidak ada satu pun anggaran untuk melindungi orang-orang yang mengajar di dalamnya.
Dua guru dari Toraja dibunuh pada 8 dan 9 April 2021 di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. Dua hari kemudian, 12 ruang sekolah dan rumah guru sudah rata dengan tanah, dan sekitar 400 anak kehilangan tempat belajar. Pemerintah menilai kerugiannya Rp 7,2 miliar. Yang belum pernah masuk hitungan siapa pun: biaya melindungi orang-orang yang mengajar di sana.
79 sumber · 2026-10-05
Phillip Mehrtens di dalam helikopter pada hari pembebasannya, 21 September 2024. Foto: Kompas.id (dipakai dengan kredit)
Pilot sipil Selandia Baru itu mendarat di Paro pada 7 Februari 2023, lalu menghilang dari dunia luar selama 19 bulan. Ini catatan lengkap dari hari pertama sampai serah terima di Jakarta — termasuk hal-hal yang sampai kini masih diperdebatkan.
Jejak organisasi dan penggalangan dana dapat diperiksa. Untuk menyatakan uang membiayai kelompok bersenjata, diperlukan rantai bukti yang menghubungkan pemberi, penerima, transaksi, dan penggunaan.