Persuasi dijawab peluru tajam: dua algojo Manfret Fatem tewas di hutan Maybrat
Pasukan gabungan TNI lebih dulu meminta kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya meletakkan senjata di hutan Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Sabtu malam 3 Oktober 2026. Jawabannya tembakan peluru tajam. Dua komandan mereka tewas, tidak ada prajurit yang terluka, dan Manfret Fatem melarikan diri. Dari lokasi, aparat mengamankan satu revolver, amunisi, radio komunikasi, dan dua lembar bendera Bintang Kejora.
Foto: Okezone, dimuat dalam laporan 4 Oktober 2026, dipakai dengan kredit
Mereka ditawari jalan keluar sebelum peluru ditembakkan. Pasukan gabungan TNI sudah memantau pergerakan kelompok bersenjata itu dari jauh, dan ketika kelompok tersebut bergerak menuju permukiman warga di Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, aparat mengirim imbauan lebih dulu: menyerah, letakkan senjata. Jawaban yang datang bukan jawaban orang yang sedang mencari kesepakatan.
Menurut Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto, Manfret Fatem adalah yang pertama menghujani pasukan dengan peluru tajam, dan seluruh anggotanya mengikuti. Kontak senjata terjadi di dalam hutan, Sabtu malam 3 Oktober 2026. Ketika tembakan berhenti, dua orang dari pihak mereka tewas. Tidak ada satu pun prajurit yang terluka. [2]
Jalan Trans-Papua ruas Manokwari–Teluk BintuniFoto: Tipank (CC BY-SA 4.0), via Wikimedia Commons.
Yang tewas adalah dua komandan: Arso Aisnak, yang disebut TNI sebagai Komandan Komando Wilayah Pertahanan II Kodap IV Sorong Raya, dan Yohanes KY, Komandan Batalyon Karef Hamit di kodap yang sama. Manfret Fatem sendiri, nama yang sudah bertahun-tahun ada di daftar pencarian orang, melarikan diri bersama sisa anggotanya ke dalam hutan. Penjelasan yang dirilis organisasinya beberapa jam kemudian justru mengukuhkan siapa mereka: juru bicara TPNP-OPM, Sebby Sambom, menyebut Arso Aisnak sebagai "Komandan Operasi Batalyon Buaya, Mayor Arso Aisnak", dan mengumumkan duka nasional atas kematian keduanya. [23]
Malam di hutan Aifat
Keberadaan kelompok itu terbaca lebih dulu. Menurut Letjen Lucky Avianto, pergerakan mereka diketahui dari hasil pantauan Badan Intelijen Negara, yang menemukan kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya hendak masuk ke pemukiman warga Distrik Aifat. Dari temuan itu, satuan gabungan bergerak: Satgas Rajawali V Koops Habema, Satgas Yonif Marinir, diperkuat Yonif 764/I B, semuanya di bawah kendali Kogabwilhan III. [2]
Yang terjadi kemudian adalah urutan yang jarang dicatat dalam pemberitaan tentang konflik bersenjata di Papua: aparat memantau lebih dulu, kemudian mengimbau, dan baru membalas setelah ditembaki. "Sebelum kontak senjata terjadi, pasukan kita terlebih dahulu melakukan upaya persuasif, meminta mereka menyerah dan meletakkan senjata," kata Lucky. "Namun imbauan dari anggota ini mereka jawab dengan menembakkan peluru tajam secara membabi buta ke pasukan Satgas TNI." [5]
"Manfred Fatem-lah yang pertama kali menghujani pasukan kita dengan peluru tajam, lalu diikuti oleh seluruh anggota TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Jaya," ujarnya. Dalam keterangan yang sama ia menyimpulkan hasilnya: "Syukur Alhamdulillah, atas lindungan Tuhan Yang Maha Esa, seluruh pasukan kita selamat." [5]
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Infanteri M. Wirya Arthadiguna, menjelaskan penindakan itu bagian dari patroli penguasaan wilayah yang rutin. Ia menyebut keberadaan kelompok bersenjata itu sebagai persoalan warga, bukan hanya persoalan aparat: "Penguasaan wilayah tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan TNI dalam menjaga keamanan masyarakat, melindungi warga, serta menciptakan kondisi yang aman dan kondusif bagi pembangunan di wilayah Papua." [7]
Yang tertinggal di lokasi
Setelah tembakan berhenti, aparat menyisir lokasi dan mengamankan sejumlah barang. Dari keterangan tertulis Koops TNI Habema: satu pucuk senjata api jenis revolver, sepuluh butir amunisi, satu unit radio genggam, bendera Bintang Kejora, dan sejumlah perlengkapan pendukung. Panglima Kogabwilhan III merincinya lebih lengkap: revolver beserta pelurunya, puluhan amunisi senapan mesin otomatis, beberapa bilah senjata tajam, alat komunikasi, dan dua lembar bendera Bintang Kejora. [7][9]
Daftar itu penting bukan karena jumlahnya, tetapi karena apa yang dibicarakannya. Sebuah kelompok yang membawa senjata api, amunisi, senjata tajam, dan dua lembar bendera tidak sedang menuju meja perundingan. Mereka sedang menuju permukiman warga, di malam hari, di wilayah yang sudah dua kali menjadi tempat penyerangan pos aparat. [1]
Jalan Trans-Papua, dan apa yang dibawanyaRuas Trans-Papua Sorong-Manokwari. Jalan seperti inilah yang menjadi medan konflik di Maybrat dan Teluk Bintuni; pada September 2022, empat dari empat belas pekerja proyek jalan rute Bintuni-Maybrat dibunuh.Foto: Sekretariat Kabinet RI (domain publik), via Wikimedia Commons
Pengejaran belum selesai. Lucky menyatakan pasukannya terus memburu Manfret Fatem dan sisa anggotanya, "untuk menangkap hidup atau mati", dengan alasan yang ia sebut terang: "agar kejahatan kemanusiaan antara lain pemerkosaan, penganiayaan, perampokan, pembunuhan, tidak lagi terjadi di tanah Papua, khususnya di Sorong, Papua Barat Daya." Ia juga mengirim peringatan kepada seluruh anggota TPNPB-OPM di mana pun berada: "TNI-Polri bersama seluruh aparat penegak hukum akan terus mengejar dan menangkap seluruh pelaku kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua, baik dalam keadaan hidup atau mati." [2][12]
Dua nama, dua daftar
Yohanes KY bukan nama baru bagi penyidik. Pada 23 April 2026, Kepolisian Daerah Papua Barat Daya menetapkannya sebagai tersangka dan memasukkan namanya ke daftar pencarian orang atas dugaan pembunuhan berencana dan perampasan senjata api milik anggota Satgas Gobang VII. Dua prajurit TNI Angkatan Laut gugur dalam peristiwa itu, dan seorang lainnya luka berat. Penetapan itu menyusul penyerangan pos di Kampung Sori pada 21-22 Maret 2026, yang diklaim sendiri oleh TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya, termasuk soal dua pucuk senjata yang mereka rampas. [28]
Arso Aisnak muncul dalam pemberitaan sebagai salah satu dari dua orang yang oleh Panglima Kogabwilhan III disebut "duet maut alias pasangan algojo" dan "selalu menjadi eksekutor setiap kejahatan" kelompok itu. Atribusi itu bersifat umum: Lucky menyebut kategori kejahatan, bukan peristiwa bertanggal dengan nama korban. Yang bisa diperiksa dari pemberitaan adalah ini: namanya muncul bersama kelompok yang sama, di wilayah yang sama, dalam rentetan peristiwa yang berulang. [1][11]
Catatan soal marga perlu diletakkan dengan hati-hati. Dalam daftar pencarian orang kasus pembunuhan terhadap empat pekerja jalan Trans-Papua rute Bintuni-Maybrat pada 2022, dan dalam kasus penembakan dua prajurit Marinir pada April 2026, polisi mencantumkan nama-nama bermarga Aisnak. Namun tidak satu pun dari nama itu adalah Arso Aisnak. Yang kami cantumkan di sini hanya yang benar-benar tertulis dalam daftar: Yohanes KY sebagai tersangka dan buron sejak April 2026. [28][30]
Manfret Fatem dan daftar yang tidak pernah selesai
Nama Manfret Fatem sudah lama melekat pada kekerasan di barat Papua. Pada Desember 2020, kepolisian menyebutnya sebagai buron dalam kasus pembunuhan seorang warga sipil berinisial OA di Distrik Aifat Timur. Dalam kasus itu peredaran foto mempertontonkan sesuatu yang tidak perlu dibahas lagi di sini: pelaku berfoto dengan korban yang sudah tewas. [31][32]
Pada 2 September 2021 dini hari, Pos Koramil Persiapan Kisor di Kabupaten Maybrat diserang. Empat prajurit TNI Angkatan Darat gugur, dua luka. Polisi menetapkan 17 orang sebagai daftar pencarian orang. Setahun kemudian, 29 September 2022, empat dari empat belas pekerja proyek Jalan Trans-Papua Barat rute Bintuni-Maybrat dibunuh. Polisi merilis wajah dua belas orang yang dicari. Pada 25 Desember 2023, saat orang lain merayakan Natal, pos Satgas Yonif 133/Yudha Sakti diserang; Kopda Hendrianto tewas dengan luka tembak di kepala, dan Pratu Frangky Gula luka serius. [30][31]
Tahun 2026 tidak berbeda. Maret lalu pos di Kampung Sori diserang, dua prajurit TNI Angkatan Laut tewas, dan kelompok itu mengumumkan sendiri keberhasilannya merampas dua pucuk senjata. April lalu tujuh orang, termasuk Manfret Fatem, ditetapkan sebagai tersangka dan buron; puluhan personel Brimob dikerahkan untuk memburu mereka. Enam bulan kemudian, ia kembali terlibat kontak senjata, dan kembali melarikan diri. [28][29]
Yang perlu dicatat dari daftar sepanjang itu bukan angkanya, melainkan polanya. Kelompok ini menyerang aparat, membunuh pekerja sipil yang sedang membangun jalan, membunuh pada hari besar keagamaan, lalu mengumumkan tuntutan agar diakui sebagai pihak yang berunding. Dalam setiap peristiwa, mereka lebih dulu menembak dan lebih dulu meninggalkan tempat. [1]
Yang mereka tinggalkan di kampung sendiri
Ada bagian yang jarang dikutip dari riwayat kelompok ini: orang-orangnya sendiri berhenti. Pada 13 Mei 2024, tiga puluh warga Maybrat yang bergabung dengan kelompok pimpinan Manfret Fatem menyerahkan diri kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengakuan yang mereka sampaikan ke aparat bukan pengakuan yang membanggakan kelompoknya: mereka mengaku bergabung karena diintimidasi dengan senjata. [25]
Lembah dan hutan tempat kelompok itu bergerakLembah Kebar, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya. Wilayah ini dan Maybrat berbagi medan yang sama: lembah terisolasi, hutan lebat, dan jarak yang panjang antara satu kampung dengan yang lain.Foto: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (domain publik), via Wikimedia Commons
Pola itu berulang. Pada 25-26 Juni 2026, sepuluh anggota Kodap IV Sorong Raya kembali ke pangkuan NKRI, dan menyerahkan enam pucuk senjata; pemberitaan lain menyebut jumlahnya 37 orang bila keluarga ikut dihitung. Pada 16 Agustus 2026, seorang pimpinan kelompok di Sorong Raya menyerahkan diri ke pos TNI di Maybrat. Beberapa hari sebelum kontak senjata di Aifat, aparat juga menyerahkan enam anggota dan simpatisan kelompok bersenjata dari Kodap lain karena memilih kembali ke NKRI. [26][27][43]
Di sisi yang lain ada gambar yang tidak pernah muncul dalam siaran pers kelompok bersenjata. Akhir September 2026, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia memfasilitasi pemulangan puluhan perempuan dan anak dari Kabupaten Maybrat yang selama kurang lebih enam tahun hidup mengungsi di hutan karena konflik. Mereka diserahkan kepada pemerintah daerah, disaksikan kepolisian dan TNI. Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, yang memimpin proses itu, menyampaikan permintaan yang sederhana dan keras sekaligus: "Kami minta mereka tidak diintimidasi oleh polisi maupun tentara dan diperlakukan secara manusiawi." [17][19]
Jadi pada minggu yang sama ketika dua algojo Manfret Fatem tewas, ada keluarga yang baru selesai menanggung enam tahun ketakutan. Dua berita itu datang dari kabupaten yang sama, dari hutan yang sama, dan hanya satu di antaranya yang masuk ke dalam siaran pers mereka. [18]
Klaim yang datang belakangan
Keesokan harinya, TPNPB-OPM menerbitkan siaran pers ketiga Manajemen Markas Pusat yang ditandatangani juru bicaranya, Sebby Sambom. Isinya: duka nasional, klaim bahwa aparat menyerang lebih dulu, klaim bahwa salah satu korban terkena bom yang dijatuhkan dengan pesawat nirawak lalu ditangkap dalam keadaan hidup dan meninggal setelah disiksa di dalam mobil aparat, klaim bahwa jenazah kedua anggotanya masih dikuasai aparat, bantahan bahwa mereka merampas senjata, dan klaim bahwa warga di dua kampung trauma. [23][24]
Satu per satu klaim itu perlu dilihat sebagai klaim, bukan sebagai keterangan. Tidak ada verifikasi independen atas tuduhan penyiksaan, tidak ada konfirmasi aparat soal kronologi versi mereka, dan tidak ada laporan lembaga yang bisa diperiksa. Juru bicara yang menyampaikannya juga bukan sumber yang bersih dari catatan serupa: dalam penelusuran kami atas pernyataannya sepanjang 2018-2026, beberapa klaim besarnya kemudian berubah atau dibantah, termasuk soal jumlah korban dan soal status orang-orang yang ia sebut mata-mata. [23]
Versi mereka soal mengapa kedua komandan itu berada di luar markas juga patut dicatat apa adanya: menurut pemberitaan yang mengutip siaran pers mereka, keduanya bergerak dari markas menuju lokasi yang ada jaringan telepon dan internet untuk berkomunikasi. Anggota kelompok yang membawa revolver, puluhan amunisi, beberapa bilah senjata tajam, radio komunikasi, dan dua lembar bendera Bintang Kejora memang bisa berada di mana saja. Yang tidak bisa dijelaskan oleh versi itu adalah mengapa tembakan pertama diarahkan ke pasukan yang datang memberi pilihan menyerah. [22]
Yang mengatakan dari sisi negara
Panglima Koops TNI Habema, Brigadir Jenderal TNI Riyanto, menempatkan hasil operasi itu sebagai kerja lapangan sekaligus memberi batas yang jelas pada cara bertindak: "Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras dan sinergi seluruh prajurit yang bertugas di lapangan. Namun demikian, kami tetap menempatkan nilai kemanusiaan sebagai pedoman utama dalam setiap langkah operasi. Setiap nyawa memiliki nilai." [13]
Ia juga mengulang pintu yang selalu terbuka, dan sudah dibuktikan puluhan orang dari kelompok yang sama: "Masih terbuka ruang bagi saudara-saudara kita yang ingin kembali ke pangkuan NKRI. Mari bersama-sama membangun Papua melalui jalan damai, persatuan, dan kebersamaan." Kalimat itu bukan retorika kosong: pada 2024 ada tiga puluh orang yang memakainya, dan pada Juni 2026 sepuluh orang lagi. [7][13]
Dari pemerintah daerah, Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menyatakan dukungan penuh kepada TNI dan Polri untuk mengambil tindakan tegas dan terukur sesuai hukum terhadap kelompok bersenjata. Ketua Majelis Rakyat Papua Barat Daya, Alfons Kambu, meminta anggota TPNPB-OPM di wilayah itu menghentikan aktivitas bersenjata dan menyerahkan diri, dengan tenggat yang ia sebutkan sendiri. Dua pernyataan itu penting karena datang dari dalam wilayah, bukan dari Jakarta. [20][21]
Minggu yang sama di tempat lain
Aifat bukan satu-satunya tempat di mana kelompok bersenjata berhadapan dengan aparat pada bulan itu. Pada 25 September 2026 dini hari, empat anggota kelompok bersenjata tewas dalam kontak tembakan dengan Timsus Yonif 315 Garuda dan Tim Taipur Koops TNI Habema di Kampung Balamai Atas, Intan Jaya; aparat menyebut salah satunya Hermanus Hogajau, komandan wilayah Kodap III Balamai Dulla, dan dua jenazah lainnya dilaporkan jatuh ke jurang. Identitas keempatnya baru diumumkan empat hari kemudian. [37][38][39]
Pola yang sama juga terlihat di sisi sebaliknya. Di Kabupaten Teluk Bintuni, 37 anggota kelompok bersenjata kembali ke NKRI setelah pendekatan yang dilakukan satuan TNI di sana. Di Moskona, rencana pemulangan pengungsi terkendala trauma yang dialami warga setelah bertahun-tahun hidup berpindah. Kepala Staf Angkatan Darat pada 11 September menyatakan kelompok bersenjata di Papua mulai resah karena ruang geraknya menyempit. Yang resah bisa menembak lebih dulu, dan itulah yang terjadi di Aifat. [40][41]
Bagi warga di kabupaten-kabupaten itu, pilihan yang tersedia tidak banyak dan tidak berubah: hidup dengan trauma, mengungsi ke hutan seperti keluarga Maybrat yang baru pulang setelah enam tahun, atau berharap aparat lebih cepat menemukan kelompok yang menembaki mereka. Pada 2026, laporan tentang pengungsi internal di Papua sudah menjadi angka yang dihitung lembaga pemantau, bukan lagi catatan pinggiran. [18][41]
Yang belum terjawab
Ada tiga hal yang belum tuntas dari peristiwa ini. Pertama, Manfret Fatem belum tertangkap, dan selama ia di luar, pola yang sama bisa berulang. Kedua, dua jenazah anggotanya masih menjadi persoalan; keluarga meminta penyerahan lewat gereja, sementara aparat belum merinci. Ketiga, tuduhan penyiksaan dan bom pesawat nirawak yang disampaikan kelompok itu belum diperiksa pihak mana pun di luar kelompok itu sendiri, dan sebaiknya tidak dipercaya hanya karena diulang banyak media. [23]
Di sisi aparat juga ada satu perkara yang masih berjalan dan perlu dicatat karena situs ini tidak memilih ke mana arah kejujurannya. Pada 26 September 2026, sebuah lembaga bantuan hukum melaporkan dugaan penyekapan dan penyiksaan seorang aparatur sipil negara di Pos Marinir Kampung Aisa, Kabupaten Maybrat. Kepolisian menyatakan masih menyelidiki. Sampai hari ini tidak ada putusan, tidak ada penetapan tersangka, dan tidak ada keterangan resmi yang merinci; karena itu kami mencantumkannya sebagai perkara berjalan, bukan sebagai fakta yang sudah terbukti. [34][35][36]
Yang sudah terang adalah apa yang terjadi malam itu di hutan Aifat: satu kelompok bersenjata diberi pilihan untuk meletakkan senjata, memilih menembak, dan kehilangan dua komandannya. Tidak ada prajurit yang terluka. Kalau bukan karena satu hal, berita ini akan berakhir di situ.
Enam hal yang perlu diingat
Pertama, urutannya. Aparat memantau lebih dulu, mengimbau lebih dulu, dan menembak setelah ditembaki. Itu tercatat dalam keterangan Panglima Kogabwilhan III dan dikuatkan keterangan Pangkoops TNI Habema. [2]
Kedua, siapa yang tewas. Arso Aisnak dan Yohanes KY bukan pemuda yang tersesat ke dalam hutan. Keduanya komandan di Kodap IV Sorong Raya; Yohanes KY sudah berstatus tersangka dan buron sejak April 2026 atas pembunuhan berencana terhadap dua prajurit TNI Angkatan Laut. [28]
Ketiga, siapa yang pergi. Manfret Fatem meninggalkan lokasi bersama sisa anggotanya, seperti ia meninggalkan setiap lokasi sebelumnya.
Keempat, barang buktinya. Satu revolver, amunisi, radio, senjata tajam, dan dua bendera Bintang Kejora. Bukan barang yang dibawa orang yang sedang mencari kesepakatan damai. [7][9]
Kelima, orang-orangnya sendiri sudah menunjukkannya. Tiga puluh orang pada 2024, sepuluh sampai 37 orang pada Juni 2026, dan satu komandan pada Agustus 2026 memilih kembali ke NKRI. Dari dalam, jalan itu terlihat, dan mereka memakainya. [25][26]
Keenam, yang ditanggung warga. Keluarga yang mengungsi enam tahun ke hutan baru pulang pada akhir September 2026, beberapa hari sebelum tembakan di Aifat. Selama kelompok bersenjata masih memilih bertempur, keluarga seperti itu yang akan terus menjadi baris terakhir dalam setiap laporan. [17]
Kronologi
Kepolisian menyebut Manfret Fatem sebagai buron dalam kasus pembunuhan seorang warga sipil di Distrik Aifat Timur.
Pos Koramil Persiapan Kisor, Maybrat, diserang: empat prajurit TNI AD gugur, dua luka; 17 orang ditetapkan sebagai daftar pencarian orang.
Empat dari empat belas pekerja proyek Jalan Trans-Papua rute Bintuni-Maybrat dibunuh; polisi merilis wajah 12 orang yang dicari.
Pos Satgas Yonif 133/Yudha Sakti diserang saat Hari Natal; Kopda Hendrianto gugur, Pratu Frangky Gula luka serius.
Tiga puluh warga Maybrat yang bergabung dengan kelompok Manfret Fatem kembali ke NKRI; mereka mengaku bergabung karena diintimidasi dengan senjata.
Pos TNI di Kampung Sori diserang; dua prajurit TNI AL gugur, satu luka berat, dan dua pucuk senjata dirampas menurut klaim kelompok.
Polda Papua Barat Daya menetapkan tujuh orang, termasuk Manfret Fatem dan Yohanes KY, sebagai tersangka dan buron.
Sepuluh anggota Kodap IV Sorong Raya kembali ke NKRI dan menyerahkan enam pucuk senjata; pemberitaan lain menyebut 37 orang bila keluarga ikut dihitung.
Seorang pimpinan kelompok bersenjata Sorong Raya menyerahkan diri ke pos TNI di Maybrat.
Kepala Staf Angkatan Darat menyatakan kelompok bersenjata di Papua mulai resah karena ruang geraknya menyempit.
Sebuah lembaga bantuan hukum melaporkan dugaan penyekapan dan penyiksaan seorang warga di Pos Marinir Kampung Aisa, Maybrat; kepolisian menyatakan masih menyelidiki.
Komnas HAM memfasilitasi pemulangan puluhan perempuan dan anak asal Maybrat yang mengungsi di hutan selama kurang lebih enam tahun.
Pasukan gabungan TNI memantau pergerakan kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya menuju permukiman Distrik Aifat, lalu mengimbau mereka menyerah. Imbauan dijawab tembakan peluru tajam; kontak senjata terjadi di dalam hutan.
Arso Aisnak dan Yohanes KY tewas; Manfret Fatem melarikan diri. Tidak ada prajurit yang terluka.
Panglima Kogabwilhan III mengumumkan peristiwa dan menyatakan pengejaran terhadap Manfret Fatem beserta sisa anggotanya.
TPNP-OPM menerbitkan siaran pers berisi klaim bom pesawat nirawak, penyiksaan, dan permintaan penyerahan jenazah; tidak ada verifikasi independen. Gubernur Papua Barat Daya menyatakan dukungan penuh kepada TNI-Polri; ketua MRP Papua Barat Daya meminta anggota kelompok menyerahkan diri.
Kronologi inti bersumber dari keterangan Panglima Kogabwilhan III dan Komando Operasi TNI Habema; versi pihak TPNPB-OPM dicantumkan sebagai klaim dan tidak memiliki verifikasi independen. Nama tempat berbeda antar sumber (Distrik Aifat dan Distrik Aifat Selatan) dan dicantumkan apa adanya. Sejumlah detail barang bukti berbeda antara keterangan Koops TNI Habema (satu revolver, sepuluh butir amunisi, satu radio, bendera) dan Panglima Kogabwilhan III (revolver, puluhan amunisi, senjata tajam, alat komunikasi, dua bendera); keduanya dicantumkan. Atribusi perbuatan kepada Arso Aisnak oleh pejabat bersifat umum, tanpa peristiwa bertanggal, sehingga ditulis sebagai atribusi, bukan temuan. Dugaan penyekapan warga di pos Marinir Aisa masih berstatus perkara berjalan. Nama Manfret Fatem juga ditulis Manfred Fatem pada sebagian sumber. Halaman ini terbuka bagi hak jawab.
Catatan redaksi
Feature dokumenter dari sumber terbuka: keterangan resmi aparat, pemberitaan yang dapat diperiksa, dan siaran pers pihak kelompok bersenjata yang dicantumkan sebagai klaim. Seluruh kutipan pejabat dikutip verbatim dari media yang memuatnya. Situs ini berdiri di sisi pemerintah Indonesia dan memandang Papua sebagai bagian sah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada wawancara lapangan oleh Papua Blood Money.
Selama 13 tahun ia mengantar penumpang dan logistik menembus jalur Trans Wamena–Nduga. Pada 15 September 2026 ia dicegat di pertigaan Danau Habema, dipaksa mengucapkan dukungan bagi Papua Merdeka di depan kamera, lalu ditembak dan dibakar bersama mobilnya.
14 sumber · 2026-10-05
Foto: Satgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 (via papua60detik.id)
Selama tujuh bulan, penyidik Polda Papua menelusuri siapa yang membeli senjata, siapa yang menyumbang uang, dan siapa yang menyediakan peluru. Perkara yang bermula dari satu transaksi di pertigaan lampu merah Pasar Lama Sentani itu kini menyeret 17 tersangka, dengan barang bukti 298 butir amunisi, magazen SS1, satu senjata rakitan, dan enam laras senjata bekas Perang Dunia II.
24 sumber · 2026-10-07
Foto: WartaPlus (wartaplus.com), dipakai dengan kredit
Dari sebuah tempat di Papua Nugini, juru bicara TPNPB-OPM ini telah delapan tahun menyampaikan kalimat yang sama: kami bertanggung jawab, mereka mata-mata, dan kami akan melanjutkan. Feature ini menyusun kembali pengakuannya sendiri, lalu memeriksa dari mana uang untuk senjata itu benar-benar datang. Jawabannya bukan dari luar negeri. Berkas pengadilan menyebut oknum aparat, dana desa, tambang emas tanpa izin, dan pungutan kepada warga Papua sendiri.
80 sumber · 2026-10-06
Foto: TEDxSydney / Fe Lumsdaine (CC BY-SA 2.0), via Wikimedia Commons
Situs ini berdiri di sisi pemerintah Indonesia: Papua adalah bagian sah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan tidak ada satu pun negara di dunia yang mengakui “pemerintahan” yang ia deklarasikan. Dossier ini memeriksa klaim seorang figur di pengasingan terhadap dokumen publik — angka korban yang tak pernah terbukti, petisi yang tidak ada di Markas PBB, pembukuan yang tidak pernah dibuka — dan mencatat siapa yang membayar harganya di Tanah Papua.
90 sumber · 2026-10-06
Foto: Dok. Istimewa via detikcom. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Satu guru meninggal dan enam luka di Distrik Anggruk, Yahukimo, pada Maret 2025. Di balik koreksi angka korban, ada pertanyaan yang jarang diajukan: uang layanan mengalir besar ke kabupaten ini, tetapi tidak ada satu pun anggaran untuk melindungi orang-orang yang mengajar di dalamnya.
Dua guru dari Toraja dibunuh pada 8 dan 9 April 2021 di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. Dua hari kemudian, 12 ruang sekolah dan rumah guru sudah rata dengan tanah, dan sekitar 400 anak kehilangan tempat belajar. Pemerintah menilai kerugiannya Rp 7,2 miliar. Yang belum pernah masuk hitungan siapa pun: biaya melindungi orang-orang yang mengajar di sana.
79 sumber · 2026-10-05
Phillip Mehrtens di dalam helikopter pada hari pembebasannya, 21 September 2024. Foto: Kompas.id (dipakai dengan kredit)
Pilot sipil Selandia Baru itu mendarat di Paro pada 7 Februari 2023, lalu menghilang dari dunia luar selama 19 bulan. Ini catatan lengkap dari hari pertama sampai serah terima di Jakarta — termasuk hal-hal yang sampai kini masih diperdebatkan.
Jejak organisasi dan penggalangan dana dapat diperiksa. Untuk menyatakan uang membiayai kelompok bersenjata, diperlukan rantai bukti yang menghubungkan pemberi, penerima, transaksi, dan penggunaan.