Selama 13 tahun ia mengantar penumpang dan logistik menembus jalur Trans Wamena–Nduga. Pada 15 September 2026 ia dicegat di pertigaan Danau Habema, dipaksa mengucapkan dukungan bagi Papua Merdeka di depan kamera, lalu ditembak dan dibakar bersama mobilnya.
Keluarga dan kerabat Aris Sanda di rumah duka, Lembang Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara. Foto: Kompas.id (dipakai dengan kredit)
Apa yang terjadi
Aris Sanda, 41 tahun, warga Lembang Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, adalah satu dari sedikit sopir yang mau dan mampu melintasi jalur Trans Wamena–Nduga setiap pekan. Ia membawa penumpang, bahan pokok, dan logistik ke distrik-distrik pedalaman yang tidak punya jalan lain.
Pada Selasa, 15 September 2026, sekitar pukul 06.00 WIT, rombongan kendaraan lajuran yang ia pimpin dihentikan sekelompok orang bersenjata di sekitar pertigaan Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya. Aparat mengidentifikasi kelompok itu sebagai TPNPB–OPM Kodap III Ndugama, yang dipimpin Egianus Kogoya.
Para penumpang dan pengemudi diperiksa. Penumpang kemudian diperintahkan kembali ke Wamena. Aris dipisahkan dari rombongan dan dibawa ke arah kawasan danau. Sebelum dibunuh, ia direkam memegang bendera Bintang Kejora dengan senjata api laras panjang diarahkan kepadanya, dan mengucapkan pernyataan dukungan bagi Papua Merdeka. Rekaman itu diunggah sendiri oleh kelompok bersenjata dan menyebar luas di media sosial.
Aris Sanda bersama kendaraan operasionalnyaAris Sanda alias Bapak Tasya, sopir lajuran yang selama 13 tahun melayani rute Trans Wamena–Nduga, bersama kendaraan yang biasa ia kemudikan di jalur pegunungan.Foto: Fajar Papua. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Esok harinya, penyisiran Koops TNI Habema menemukan satu unit kendaraan hangus terbakar di lereng savana kering sekitar Danau Habema, dengan jenazah pengemudinya di dalamnya. Olah tempat kejadian perkara dilakukan Satgas Operasi Damai Cartenz, dan jenazah dibawa ke rumah sakit di Wamena.
Kronologi: dari pukul enam pagi sampai pemakaman di Toraja
Rombongan lajuran dari Wamena menuju Mbua, Kabupaten Nduga, dihentikan kelompok bersenjata di pertigaan Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya. Penumpang dan pengemudi diperiksa, lalu penumpang diperintahkan kembali ke Wamena.
Aris dipisahkan dari rombongan dan dibawa menuju kawasan Danau Habema. Dalam video yang kemudian beredar, ia tampak berdiri dikelilingi anggota bersenjata, memegang bendera Bintang Kejora, dan mengucapkan pernyataan dukungan bagi Papua Merdeka.
Aris ditembak. Jenazahnya diletakkan di dalam mobil yang ia kemudikan, lalu mobil itu dibakar.
Penyisiran Koops TNI Habema menemukan kendaraan dalam kondisi hangus terbakar beserta jenazah pengemudinya. Olah TKP dilakukan Satgas Operasi Damai Cartenz. Jenazah dibawa ke rumah sakit di Wamena. Hari yang sama, masyarakat tiga distrik di Kabupaten Nduga mengeluarkan surat terbuka duka cita dan menyerukan agar penembakan terhadap sopir angkutan dihentikan.
Istri korban, Sinta Bilolo, guru di Distrik Mbua, dievakuasi bersama dua guru lain, Haryati dan Murni, menggunakan helikopter Bell dan Fennec dari Mbua ke Kenyam, lalu pesawat Caravan ke Wamena. Evakuasi lewat udara dilakukan karena jalur darat Mbua–Wamena terganggu setelah insiden.
Jenazah Aris Sanda diterbangkan dari Wamena menuju Toraja Utara melalui Jayapura dan Makassar.
Jenazah tiba di kampung halaman, Lembang Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Toraja Utara, diantar ratusan warga dan kerabat.
Aris Sanda dimakamkan di Tongkonan Kalintiong, Lembang Tampan Bonga, mengikuti prosesi adat Toraja.
Siapa Aris Sanda
Aris lahir di Tawau, Pulau Kalimantan, 9 September 1985. Ia merantau ke Tanah Papua sekitar 23 tahun lalu, masih sebagai pelajar, mengikuti kakaknya. Ijazah SMA ia bawa untuk mencoba peruntungan sebagai anggota Polri. Dua kali ia mengikuti tes: di Kendari, lalu di Wamena. Dua-duanya tidak lolos.
Kendaraan yang terbakar, 16 September 2026Sisa kendaraan lajuran yang hangus terbakar di kawasan Danau Habema, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya. Jenazah korban ditemukan di dalam kendaraan; foto ini menampilkan kendaraan dan aparat yang memeriksa lokasi, bukan jenazah.Foto: Kompas.id. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Dari situ ia menjadi pengojek di Wamena sambil mengumpulkan uang. Perlahan ia membeli mobil, lalu mobil lagi. Sejak 2013 ia menekuni angkutan lajuran dan akhirnya memiliki tiga kendaraan untuk mengangkut penumpang ke wilayah pegunungan. Warga Nduga mengenalnya sebagai sopir yang rutin menembus jalur ekstrem menuju Mbua dan distrik-distrik lain, membawa makanan, mama-mama yang hendak berjualan, dan anak-anak sekolah.
Istrinya, Sinta Bilolo, bekerja sebagai guru di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Dari jauh di perantauan, Aris rutin mengirim uang untuk orangtuanya yang sudah lanjut usia dan membantu membiayai pendidikan adik serta keponakannya.
“Dia bilang, tunggu Mama, nanti saya pulang, kita berkumpul. Saya rindu sama Mama. Kasihan Mama sama Bapak sudah tua.” — Elisabet Salasa, ibu korban, mengenang percakapan terakhir dengan putranya (17 September 2026)
Klaim pelaku, dan bantahan aparat
Juru bicara TPNPB–OPM, Sebby Sambom, mengaku bertanggung jawab dan menyatakan penembakan dilakukan kelompok di bawah panglima Kodap III Ndugama, Egianus Kogoya. Menurut klaim itu, korban adalah “agen militer yang berprofesi sebagai tukang sopir”.
Aparat membantah. Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menyatakan korban adalah warga sipil yang sedang bekerja membawa logistik dan melayani kebutuhan transportasi masyarakat menuju pedalaman. Pangdam XVII/Cenderawasih juga menegaskan bahwa korban-korban penembakan pada pekan itu bukan anggota intelijen.
Evakuasi di savana HabemaKawasan savana kering sekitar Danau Habema, tempat kendaraan korban ditemukan hangus terbakar. Olah tempat kejadian perkara dilakukan Satgas Operasi Damai Cartenz.Foto: Dok. Koops TNI Habema via Kompas.id. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Sampai laporan ini diperbarui, tidak ada dokumen atau keterangan independen yang memverifikasi klaim bahwa Aris Sanda adalah anggota intelijen. Yang tercatat justru sebaliknya: warga tiga distrik di Nduga menegaskan bahwa ia selama bertahun-tahun mengangkut kebutuhan hidup mereka.
Nduga kehilangan sopirnya
Sehari setelah penemuan jenazah, masyarakat dan anak-anak sekolah dari tiga distrik di Kabupaten Nduga mengeluarkan surat terbuka. Mereka bukan hanya menyampaikan duka kepada keluarga korban di Toraja, tetapi juga meminta kelompok bersenjata menghentikan penembakan terhadap sopir yang melayani masyarakat.
“Bagi kami masyarakat kecil di Nduga, dia sudah seperti orang Nduga. Sudah berapa tahun dia layani kami, bawa makanan kami, bawa mama-mama jualan, bawa anak-anak kami dari Wamena ke Nduga dengan selamat. Mau cari sopir seperti dia di mana lagi di gunung ini? Anak-anak sekolah menangis, mama-mama menangis, bapa-bapa tunduk kepala.” — Surat terbuka masyarakat tiga distrik di Kabupaten Nduga, 16 September 2026
Koalisi masyarakat sipil juga meminta aparat memeriksa para penumpang sebagai saksi, memberikan perlindungan kepada mereka, memastikan keluarga korban memperoleh informasi yang jelas soal penyelidikan, dan menahan diri dari aksi balasan yang berpotensi menimbulkan korban baru.
Pola yang berulang: jalur, proyek, dan tambang
Kematian Aris Sanda bukan insiden tunggal. Ia menjadi korban keempat dalam sepekan di pegunungan tengah Papua. Sebelumnya, 9 September 2026, tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya dibunuh di Distrik Muliama; kelompok bersenjata menuduh mereka mata-mata. Pada 2 Agustus 2026, empat pekerja proyek jalan nasional milik PT Sutan Harauli Jaya ditembak di Distrik Woniki, Tolikara. Pada 2018, 19 pekerja Istaka Karya dibunuh di Nduga.
Polanya tetap: korban adalah orang-orang yang menghubungkan wilayah terisolasi dengan dunia luar — sopir, guru, petugas dinas, pekerja jalan — atau orang yang menggali hasil bumi di wilayah tersebut, seperti para pendulang emas. Artinya kekerasan tidak jatuh secara acak. Ia jatuh tepat pada orang yang membuat wilayah itu tetap hidup.
Skema jalur Trans Wamena–NdugaSkema jalur Trans Wamena–Nduga dan titik kejadian di pertigaan Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya. Gambar dibuat dari data lokasi dalam laporan media.Gambar: Papua Blood Money.
Siapa yang membiayai kekerasan ini
Kelompok bersenjata tidak hidup dari udara, dan pertanyaan soal pembiayaan tidak boleh berhenti pada tuduhan. Dari catatan publik, ada tiga sumber yang bisa ditelusuri. Pertama, kontrol atas wilayah tambang rakyat. Di Korowai, Yahukimo, dan sejumlah kawasan lain, pendulang emas dibunuh dengan alasan dituduh mata-mata, dan aparat mencatat sekitar 100 pendulang tewas sejak 2018 menurut penghitungan ACLED. Kedua, pungutan terhadap proyek pembangunan. Pada 2 Desember 2024, kelompok bersenjata bersama warga mendatangi Pemerintah Kabupaten Puncak untuk menuntut pelunasan upah dan pembayaran material proyek puskesmas — peristiwa yang dicatat dalam rilis resmi Polri. Ketiga, pungutan atas transportasi dan logistik: siapa yang menguasai jalur, dia yang menentukan siapa boleh bergerak dan berapa harga barang sampai ke pedalaman. Insiden yang menewaskan Aris Sanda adalah bentuk paling keras dari sumber ketiga ini.
Yang tidak dapat kami nyatakan sebagai fakta adalah klaim bahwa lembaga donor asing atau organisasi diaspora membiayai kelompok bersenjata. Sampai laporan ini disusun, tidak ada satu pun dokumen publik — putusan pengadilan, laporan audit, atau dokumen donor — yang menunjukkan aliran dana resmi berubah menjadi senjata atau upah bagi kelompok bersenjata. Jika ada pihak yang memiliki dokumen itu, dokumen itulah yang harus dibuka, bukan tuduhan tanpa lampiran.
Yang dokumennya justru ada adalah sebaliknya: uang publik dan uang donor tercatat mengalir ke layanan di kabupaten-kabupaten yang sama. USAID menyalurkan bantuan senilai sekitar 10 juta dolar AS dan bersama PT Freeport Indonesia sekitar 4 juta dolar AS untuk penanganan stunting di Mimika, Nabire, dan Asmat. Jepang menyalurkan hibah Grassroots untuk fasilitas publik. UNICEF bersama Jepang menyalurkan sekitar 3,4 juta dolar AS ke Biak. Australia mencatat kerja sama senilai 312,1 juta dolar Australia. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mencatat 44,09 juta dolar AS kebutuhan kemanusiaan 2024.
Uang itu masuk untuk layanan. Yang tidak pernah masuk bersama uang itu adalah syarat perlindungan: bahwa manusia yang mengantar layanan tersebut — sopir, guru, perawat, pekerja jalan — harus tetap hidup. Inilah celah yang selalu terlewat dalam setiap laporan pembangunan di Tanah Papua, dan inilah sebabnya pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya siapa yang menembak Aris Sanda, tetapi siapa yang membiayai kemampuan untuk terus menembak, mengapa kekerasan berpindah dari tambang ke jalan, dan mengapa setelah bertahun-tahun tidak ada satu pun dokumen audit yang bisa menunjukkan ke mana uang mengalir sekaligus siapa yang menjamin keselamatan warga sipil di jalur yang sama.
Sumber
Angka yang tercatat
Angka yang tercatat: Aris Sanda berusia 41 tahun, 13 tahun melayani rute Wamena–Nduga, 4 warga sipil tewas dalam sepekan pada 9–15 September 2026, dan 23 tahun ia merantau di Tanah Papua. Ia dimakamkan di Tongkonan Kalintiong, Lembang Tampan Bonga, pada 23 September 2026 mengikuti prosesi adat Toraja.
Kronologi
Rombongan lajuran dari Wamena menuju Mbua, Kabupaten Nduga, dihentikan kelompok bersenjata di pertigaan Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya. Penumpang dan pengemudi diperiksa, lalu penumpang diperintahkan kembali ke Wamena.
Aris dipisahkan dari rombongan dan dibawa menuju kawasan Danau Habema. Dalam video yang kemudian beredar, ia tampak berdiri dikelilingi anggota bersenjata, memegang bendera Bintang Kejora, dan mengucapkan pernyataan dukungan bagi Papua Merdeka.
Aris ditembak. Jenazahnya diletakkan di dalam mobil yang ia kemudikan, lalu mobil itu dibakar.
Penyisiran Koops TNI Habema menemukan kendaraan dalam kondisi hangus terbakar beserta jenazah pengemudinya. Olah TKP dilakukan Satgas Operasi Damai Cartenz. Jenazah dibawa ke rumah sakit di Wamena. Hari yang sama, masyarakat tiga distrik di Kabupaten Nduga mengeluarkan surat terbuka duka cita dan menyerukan agar penembakan terhadap sopir angkutan dihentikan.
Istri korban, Sinta Bilolo, guru di Distrik Mbua, dievakuasi bersama dua guru lain, Haryati dan Murni, menggunakan helikopter Bell dan Fennec dari Mbua ke Kenyam, lalu pesawat Caravan ke Wamena. Evakuasi lewat udara dilakukan karena jalur darat Mbua–Wamena terganggu setelah insiden.
Jenazah Aris Sanda diterbangkan dari Wamena menuju Toraja Utara melalui Jayapura dan Makassar.
Jenazah tiba di kampung halaman, Lembang Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Toraja Utara, diantar ratusan warga dan kerabat.
Aris Sanda dimakamkan di Tongkonan Kalintiong, Lembang Tampan Bonga, mengikuti prosesi adat Toraja.
Sebagian keterangan dalam laporan ini berasal dari pernyataan aparat dan pemberitaan media. Klaim pelaku bahwa korban anggota intelijen tidak dapat diverifikasi secara independen. Situs ini tidak menampilkan gambar jenazah; foto yang ditampilkan adalah kendaraan, lokasi, dan proses evakuasi. Kami akan memperbarui laporan ini bila ada dokumen atau keterangan baru.
Catatan redaksi
Disusun dari pemberitaan media terverifikasi dan pernyataan aparat. Tidak ada wawancara lapangan oleh Papua Blood Money.
Satu guru meninggal dan enam luka di Distrik Anggruk, Yahukimo, pada Maret 2025. Di balik koreksi angka korban, ada pertanyaan yang jarang diajukan: uang layanan mengalir besar ke kabupaten ini, tetapi tidak ada satu pun anggaran untuk melindungi orang-orang yang mengajar di dalamnya.
37 sumber · 2026-10-05
Phillip Mehrtens di dalam helikopter pada hari pembebasannya, 21 September 2024. Foto: Kompas.id (dipakai dengan kredit)
Pilot sipil Selandia Baru itu mendarat di Paro pada 7 Februari 2023, lalu menghilang dari dunia luar selama 19 bulan. Ini catatan lengkap dari hari pertama sampai serah terima di Jakarta — termasuk hal-hal yang sampai kini masih diperdebatkan.
Oktovianus Rayo dan Yonathan Randen meninggal pada April 2021. Laporan evakuasi mereka memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap tenaga pengajar juga menyentuh keluarga dan warga yang mencari keselamatan.
Jejak organisasi dan penggalangan dana dapat diperiksa. Untuk menyatakan uang membiayai kelompok bersenjata, diperlukan rantai bukti yang menghubungkan pemberi, penerima, transaksi, dan penggunaan.