KKB Nduga Bunuh 11 Warga Sipil: Sebelas Nama di Jalan Batas Batu
Pagi itu sebelas orang naik truk dari Kenyam menuju Batas Batu, membawa beras untuk dijual, uang kembalian, dan janji akan pulang sore. Tidak satu pun dari mereka sampai di rumah.
Pasukan gabungan TNI sudah menunggu di jalur pelintasan antara Sungai Frambu dan Sungai Kamundan ketika Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Manfret Fatem berjalan masuk bersama dua komandan batalyonnya. Penyergapan itu berdiri di atas satu hal yang jarang diucapkan terbuka oleh perwira tinggi: informasi intelijen bernilai A1 dari Badan Intelijen Negara.
Jumat pagi, 9 Oktober 2026. Di hutan sebelah utara Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, sebuah tim patroli gabungan TNI sudah menunggu di jalur pelintasan antara Sungai Frambu dan Sungai Kamundan. Mereka tidak sedang berjalan tanpa arah. Mereka menunggu satu orang yang sudah masuk daftar pencarian orang sejak 2020 dan diburu aparat sejak 2021. [10] [12] [17] [19] [20]
Orang itu Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya, Manfret Fatem, yang di sejumlah pemberitaan juga ditulis Manfred Fatem. Pagi itu ia tidak berjalan sendiri. Bersamanya ada dua komandan batalyon: Antonius Assem alias Anton Fatem, Komandan Batalyon Ayosami, dan Yesias Fatem, Komandan Batalyon Mosata, keduanya di kodap yang sama. [7] [10] [12] [17] [19] [22] [23] [27]
Menurut keterangan resmi Komando Operasi (Koops) TNI Habema, kontak senjata terjadi pukul 08.25 WIT. Sumber lain menyebut jam yang berbeda: ANTARA menulis sekitar pukul 09.01 WIT dalam rangkaian Operasi Badai Kasuari 3.10, Metro TV mengutip Panglima Kogabwilhan III menyebut 09.10 WIT, dan Kompas.com menyebut sekitar pukul 10.00 WIT. Selisih jam itu kami catat apa adanya. Yang tidak berbeda adalah harinya: Jumat, 9 Oktober 2026. [7] [9] [17] [20] [22] [23] [27]
Pasukan yang menunggu itu adalah Tim Patroli Gabungan Denkul 4/Satgas Rajawali V bersama Satgas Yonif 9 Marinir, di bawah kendali Koops TNI Habema dan Kogabwilhan III. Operasi itu bukan operasi dadakan. Pemberitaan menyebutnya kelanjutan dari operasi gabungan pada 5 Oktober 2026, dan bagian dari rangkaian Operasi Badai Kasuari 3.10 di wilayah itu. [1] [4] [8] [10] [20] [36]
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto, menyampaikan hasilnya kepada wartawan. Kutipan Metro TV: “Tiga tokoh OPM yaitu Manfred Fatem sendiri yang jabatannya adalah Komandan Operasi Kodap IV Sorong Raya,” katanya. “Kemudian Anton Fatem yang jabatannya adalah Danyon Ayosami Kodap IV Sorong Raya serta Yesias Fatem yang jabatannya adalah Danyon Mosata Kodap IV Sorong Raya.”
Rincian nasib ketiganya juga datang dari Lucky. “Manfret Fatem dilaporkan tewas di lokasi, sedangkan Anton Fatem dan Yesias Fatem dilaporkan tewas ketika berusaha melarikan diri menuju kawasan Sungai Frambu. Pencarian terhadap dua jenazah yang disebut tenggelam di sungai masih dilakukan,” katanya, seperti dikutip ANTARA. [7] [8] [22] [23]
Jakarta Globe mencatat hal yang membuat peristiwa ini berbeda dari banyak kontak senjata lain di Papua: hanya satu jenazah yang berhasil diambil di lokasi. Dua lainnya terseret arus dan masih hilang. Jakarta Globe juga mencatat bahwa militer tidak menjelaskan apakah ketiga orang yang memiliki marga sama itu punya hubungan keluarga. [2] [5] [25]
Setelah tembakan berhenti, aparat menyisir lokasi. Menurut laporan ANTARA, dari lokasi itu diambil dua pucuk senjata api: sebuah AK-101 dan sebuah Caracal, ditambah puluhan butir amunisi dan selembar bendera Bintang Kejora. Laporan iNews Sorong Raya menambahkan satu detail yang jarang muncul dalam keterangan resmi: senjata jenis Caracal itu disebut terbawa arus sungai dan masih dicari.
Tidak ada prajurit TNI yang menjadi korban. Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Infanteri M. Wirya Arthadiguna, menyatakannya singkat: “Berdasarkan laporan sementara, tidak terdapat korban dari pihak personel TNI dalam kontak tembak tersebut.” [4] [19] [27]
Pangkoops TNI Habema Brigadir Jenderal TNI Riyanto menambahkan alasan di balik cara kerja pasukannya. “Setiap ancaman bersenjata yang membahayakan keselamatan masyarakat dan aparat harus ditangani secara tegas dan profesional. Namun, tujuan utama kami adalah menciptakan ruang aman agar masyarakat dapat hidup tenang, pelayanan publik berjalan, dan kehidupan sosial kembali tumbuh,” katanya. Ia juga menyampaikan satu kalimat yang diarahkan langsung ke hutan: “Kepada saudara-saudara yang masih berada di hutan, jalan damai tetap terbuka.” [12]
Daftar barang bukti itu penting bukan karena jumlahnya, tetapi karena apa yang dibicarakannya. Sebuah kelompok yang berjalan di hutan dengan senapan serbu, pistol, amunisi, dan bendera tidak sedang menuju meja perundingan. Ia sedang membawa perang ke hutan orang lain. [25] [26] [33]
Yang membuat penyergapan itu bisa terjadi di titik yang tepat bukan keberuntungan. Sehari setelah kontak senjata, Lucky Avianto menyatakan hal yang jarang diucapkan terbuka oleh perwira tinggi TNI. “Berdasarkan informasi operasi yang disampaikan, keberhasilan penindakan tersebut didukung oleh informasi intelijen bernilai A1 dari Badan Intelijen Negara (BIN),” ujarnya, dikutip ANTARA dan diberitakan ulang oleh Liputan6, Beritasatu, Tribun, VOI, Suara.com, dan sejumlah portal lain pada 10 Oktober 2026.
Dalam praktik intelijen, tanda A1 adalah peringkat tertinggi pada skala yang menilai dua hal sekaligus: keterandalan sumber dan keterpercayaan isi informasi. Artinya, laporan yang dipakai bukan kabar burung dari tangan ketiga, melainkan laporan yang diyakini dari sumber yang bisa dipercaya dan telah diperiksa. [2] [5] [16] [24] [26] [38] [39]
Lucky menjelaskan mengapa hal itu penting bagi warga sipil, bukan hanya bagi pasukan. “Informasi mengenai keberadaan kelompok bersenjata dinilai membantu aparat dalam menentukan sasaran operasi serta mengurangi risiko terhadap masyarakat sipil di sekitar wilayah penindakan,” katanya. Dia menyebut sinergi antara BIN dan satuan operasi TNI sebagai bagian penting dalam menghadapi ancaman kekerasan bersenjata. [2]
Bagi wilayah seperti Maybrat, perbedaan itu bukan soal teknis. Selama bertahun-tahun, kelompok bersenjata di sana bergerak di antara kampung, kebun, dan jalan Trans-Papua yang sedang dibangun. Operasi yang menembak awang-awang menghasilkan korban dari dua sisi. Operasi yang tahu persis siapa yang dicari dan di mana ia berada, punya peluang lebih besar berakhir hanya dengan yang memang dicari. [2] [5] [25] [26]
Ada satu hal lain yang Lucky sampaikan, dan itu klaim yang perlu diuji. Ia menyebut ada informasi soal dugaan keretakan internal di Kodap IV Sorong Raya: Manfret dan dua bawahannya disebut mengalami penurunan dukungan dari sejumlah anggota akibat ketidakpuasan terhadap kepemimpinan mereka. Sampai berita ini disusun, tidak ada pernyataan dari pihak kelompok yang mengonfirmasi atau membantahnya. [51]
Aturan pelibatan juga disebut dalam keterangan yang sama: seluruh personel di bawah kendali Kogabwilhan III diwajibkan mengedepankan rules of engagement, ketentuan perundang-undangan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Lucky menutup dengan prinsip hukum Romawi yang sering dipakai TNI: salus populi suprema lex esto, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. [16]
Manfret Fatem bukan nama baru. Pada Desember 2020, kepolisian menyebutnya buron dalam kasus pembunuhan seorang warga sipil di Distrik Aifat Timur. Reuters VOI mengutip pernyataan polisi pada September 2021 bahwa ia juga buron dalam kasus pembunuhan seorang anggota Brimob Polda Papua Barat di Kabupaten Teluk Bintuni dan kasus pembunuhan dua warga sipil di Maybrat pada 2020.
Jejak kekerasan yang paling sering dikutip terjadi pada 2 September 2021, dini hari, di Kisor. Pos Koramil Persiapan Kisor diserang puluhan orang bersenjata panah, parang, dan senjata api. Empat prajurit TNI AD tewas: Sertu Amrosius, Pratu Dirham, Prada Zul Ansari, dan Letda Dirman. Dua prajurit lainnya luka. Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, kepada Tempo menyatakan bertanggung jawab dan menyebut komandan Kodap IV Sorong Raya sebagai pelaksananya. Polisi menetapkan 17 orang sebagai daftar pencarian orang, salah satunya Manfret Fatem. [42] [53]
Setelah Kisor, serangan terhadap pos dan prajurit berulang. Pada 20 Januari 2022, prajurit Yon Zipur 20/PPA yang sedang membangun jembatan Fankario–Kamat di Aifat Timur ditembaki; Serda Miskel Rumbiak tewas dan empat prajurit luka. Pada 25 Desember 2023, saat hari Natal, Pos Bousha di Aifat Selatan diserang; satu prajurit Yonif 133/Yudha Sakti tewas dan satu luka. Kepala Pusat Penerangan TNI saat itu, Mayjen TNI Nugraha Gumilar, menyebut serangan yang menodai Natal itu dilakukan oleh sayap OPM yang dipimpin Manfred Fatem. [40] [41] [42] [43]
Yang paling langsung menyentuh warga sipil terjadi pada 29 September 2022 di ruas jalan Trans Bintuni–Maybrat. Empat belas pekerja proyek PT Doreri Makmur diserang. Empat tewas, satu hilang, dua alat berat dan tiga truk dibakar. Kepolisian menyebut Manfret Fatem sebagai otak penyerangan itu. Versi kepolisian menyebut nama korban yang tewas Abbas, Armin, Darmin, dan Yafet; versi Jubi menyebut Sitinjak (25), Om Kumis (55), Halim (20), dan seorang perempuan bernama Reva (28). Dua versi nama itu kami tulis berdampingan karena sampai sekarang tidak ada satu daftar resmi yang menutup selisihnya. [43] [48]
Komnas HAM Papua memastikan satu hal tentang para pekerja itu: mereka tidak bersenjata. “Para pekerja tidak memiliki senjata api. Ada satu orang yang membawa senapan angin untuk menembak burung,” kata Kepala Perwakilan Komnas HAM Wilayah Papua, Frits Ramandey, seperti dikutip Jubi. [44] [45] [46] [47]
Pada 22 Maret 2026, giliran Pos Tinjau Kampung Sorry di Aifat Selatan yang diserang. Dua prajurit TNI AL gugur, Prada Mar Elki Saputra dan Prada Mar Andi Suvio, satu prajurit luka berat, dan dua pucuk senjata serta 75 butir amunisi dirampas. Polisi menetapkan tujuh orang sebagai tersangka dan buron: Manfred Fatem, Anthon Fatem, Markus Faumar, Zamuel Assem, Markus Fatem, Donatus Aisnak, dan Yohanes Ky. detikcom menyebut insiden inilah salah satu yang membuat nama Manfret Fatem dikenal luas pekan ini. [47]
Ancaman juga diarahkan langsung ke warga sipil dan ke pejabat hak asasi manusia. Pada April 2025, lewat pernyataan Sebby Sambom, kelompok ini mengimbau warga sipil yang dianggap terkait dengan militer Indonesia di Sungai Rawara agar segera mengungsi. [13] [28] [30] [49]
Dalam pernyataan yang sama, Sambom menyebut bahwa bila kepala Komnas HAM Papua Frits Ramandey tertembak, hal itu “sah”. Pada September 2025, The Jakarta Post melaporkan Marinir merebut Muara Oasin di Aifat Selatan dari kubu yang dipimpin Manfret Fatem, dan menyebut kelompok itu meneror warga dengan membunuh warga sipil, menyerang pos militer, dan menyergap kendaraan.
Manfret Fatem sendiri hampir tidak pernah berbicara langsung kepada media. Semua klaim kelompok disampaikan lewat juru bicara TPNPB. Nama yang muncul di banyak laporan kepolisian, dan jarang muncul di layar sebagai pembicara. [51] [52]
Penyergapan 9 Oktober bukan awal. Empat hari sebelumnya, Sabtu malam 3 Oktober 2026, pasukan gabungan menindak kelompok yang sama di hutan Distrik Aifat. Dua orang tewas: Arso Aisnak, yang disebut TNI sebagai Komandan Komando Wilayah Pertahanan II Kodap IV Sorong Raya, dan Yohanes KY, Komandan Batalyon Karef Hamit.
Lucky Avianto menyebut keduanya dengan bahasa yang tidak biasa bagi seorang jenderal. “Arso Aisnak dan Yohanes KY yang terkenal sebagai duet maut alias pasangan algojo yang selalu menjadi eksekutor setiap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Jaya,” katanya, dikutip detikcom.
TPNPB membalas dengan siaran pers duka pada 5 Oktober 2026. Kelompok itu mengklaim salah satu dari mereka ditangkap dalam keadaan hidup lalu meninggal setelah disiksa di dalam mobil aparat, dan meminta jenazahnya diserahkan kepada keluarga dan gereja. Klaim itu tidak diverifikasi pihak independen dan tidak dibalas TNI dalam keterangan resmi yang kami temukan. [14] [15] [28] [29]
Sebelum itu, kelompok ini juga menyusut dari dalam. Pada 13 Mei 2024, tiga puluh warga Maybrat yang bergabung dengan kelompok Manfret Fatem kembali ke pangkuan NKRI. Menurut pemberitaan, mereka mengaku bergabung karena diintimidasi dengan senjata. Pada 25–26 Juni 2026, sepuluh anggota Kodap IV Sorong Raya kembali dan menyerahkan enam pucuk senjata — sejumlah pemberitaan menyebut 37 orang bila keluarga ikut dihitung. Pada 16 Agustus 2026, seorang pimpinan kelompok itu menyerahkan diri ke pos TNI di Maybrat. [14] [60] [61]
Angka-angka tentang Maybrat hampir selalu tentang orang yang tidak ikut berperang. Setelah serangan Kisor pada September 2021, 2.086 warga dari 36 kampung di lima distrik mengungsi, termasuk 69 balita dan 11 orang sakit, menurut pernyataan koalisi masyarakat sipil. Sebulan kemudian jumlahnya sudah 2.768 orang, tersebar di 50 kampung.
Keadaan itu tidak selesai dalam hitungan bulan. Komnas HAM mencatat 5.296 pengungsi Maybrat masih bertahan di Kota Sorong pada Juli 2023. Human Rights Monitor mencatat 95 pengungsi meninggal antara September 2021 dan Agustus 2023: 16 laki-laki dewasa, 46 perempuan dewasa, lima anak-anak, dan dua bayi. BBC News Indonesia mengutip Komnas HAM yang mencatat 138 warga meninggal di pengungsian karena kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. [54] [55]
Sekolah juga menjadi korban. Human Rights Monitor mencatat setidaknya sepuluh sekolah dasar dan satu sekolah menengah pertama di Maybrat tetap terbengkalai setelah serangan Kisor; beberapa di antaranya dipakai sebagai pos aparat. Layanan kesehatan dan kegiatan gereja ikut berhenti di distrik-distrik terdampak. Anak-anak yang tidak bisa bersekolah tidak muncul di statistik korban mana pun. [53] [55] [56]
Pemulangan berjalan lambat. Dari 706 keluarga pengungsi yang tercatat Komnas HAM pada 2023, baru 202 kepala keluarga yang pulang sampai 2024. Baru pada akhir September 2026 Komnas HAM memfasilitasi pemulangan puluhan perempuan dan anak asal Maybrat yang bertahan di hutan selama kurang lebih enam tahun. Pada 2 Oktober 2026, sejumlah warga pengungsi kembali ke kampungnya. [53]
Sampai berita ini disusun, dua jenazah yang paling dibicarakan di Maybrat pekan ini justru yang belum ditemukan. Anton Fatem dan Yesias Fatem tewas di air, bukan di darat, dan sampai sekarang pencariannya berlanjut. Brigadir Jenderal TNI Riyanto menyatakan identitas dua korban selain Manfret masih dalam proses verifikasi, meskipun informasi awal menyebut keduanya adalah komandan batalyon di struktur Kodap IV Sorong Raya.
Di kampung-kampung Maybrat, kalimat “belum ditemukan” biasanya berarti dua hal sekaligus: keluarga belum bisa menguburkan, dan belum ada kepastian resmi. Jakarta Globe menulis militer tidak menjelaskan apakah ketiga pria bermarga sama itu bersaudara. Kami juga tidak menuliskannya, karena tidak ada sumber yang mengonfirmasi. [2] [5] [15] [27] [34]
Untuk peristiwa 9 Oktober 2026, juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom belum memberikan keterangan apa pun sampai 10 Oktober 2026. Tiga media mencatat hal itu secara eksplisit: Kompas.id menulis Sebby belum memberikan keterangan, Suara Papua menyatakan masih berupaya konfirmasi, dan Batas Papua menulis belum ada pernyataan resmi dari jubir TPNPB mengenai tewasnya Manfred Fatem dan dua anggota lainnya.
Kompas.id juga mencatat sesuatu yang menjelaskan mengapa diamnya Sebby kali ini berbeda: dalam berbagai laporan insiden di Maybrat, Sebby biasanya mendapatkan laporan dari Manfred Fatem. Artinya, kanal informasi yang selama ini menghubungkan peristiwa di hutan Maybrat dengan panggung pernyataan publik sudah tidak ada di ujungnya. [12] [28] [34]
Pada 5 Oktober 2026, TPNPB sempat mengeluarkan pernyataan duka untuk Arso Aisnak dan Yohanes KY. Untuk Manfret Fatem, tidak ada pernyataan duka yang kami temukan. Jika kelompok itu berbicara nanti, versi mereka perlu dicatat sebagai versi, bukan sebagai fakta. [12]
Sehari setelah kontak senjata, Kapolres Maybrat AKBP Jandry Denny Sairlela memastikan tidak ada gejolak di tengah masyarakat. “Terkait informasi ini, sampai sekarang masih kondusif. Tidak ada gejolak atas peristiwa tersebut. Sama-sama kita mencoba untuk menjaga kamtibmas,” katanya kepada iNews Sorong Raya. Ia menyebut jajaran Polres Maybrat belum menambah personel, dan mengakui komunikasi dengan rekan-rekan TNI di lokasi masih terkendala.
Yang berjalan normal di Maybrat pekan ini justru hal-hal yang bertahun-tahun terganggu: pasar, sekolah, gereja, dan aktivitas warga. Bagi warga yang selama ini hidup di antara dua pihak, keamanan bukan soal siapa yang menang, melainkan soal apakah esok pagi mereka bisa berangkat kerja tanpa mendengar tembakan. [18] [19]
Kami tidak menulis bahwa Manfret, Anton, dan Yesias Fatem adalah keluarga. Tidak ada satu pun sumber yang mengonfirmasi hubungan itu; Jakarta Globe mencatat militer pun tidak menjelaskannya. Marga yang sama di Maybrat tidak otomatis berarti kerabat.
Kami tidak menulis adanya kasus perkosaan oleh kelompok ini di Maybrat, karena dalam penelusuran kami tidak ada kasus seperti itu yang terdokumentasi untuk kelompok ini. Menyebutkan kejahatan yang tidak bisa dibuktikan hanya akan melemahkan seluruh isi halaman ini. [27]
Kami juga tidak memakai dua peristiwa lain yang sering dicampur ke dalam catatan kelompok ini. Pertama, penembakan tiga warga sipil di Kampung Ainod pada 13 Agustus 2026, yang menurut saksi dilakukan oleh aparat berseragam; peristiwa itu masih didalami dan tidak boleh dihitung sebagai kejahatan kelompok bersenjata. Kedua, penembakan dua tenaga kesehatan di Tambrauw pada Maret 2026, yang diklaim oleh Kodap XXXIII, bukan Kodap IV.
Kami tidak menyatukan daftar nama korban pekerja jalan Trans Bintuni–Maybrat 2022 menjadi satu daftar tunggal, karena versi kepolisian dan versi Jubi berbeda dan tidak ada dokumen resmi yang menutup selisih itu. Nama-nama itu manusia, bukan angka. Karena itu kami menolak merapikannya secara sepihak. [31] [62]
Terakhir, kami tidak menulis bahwa penyergapan ini mengakhiri kekerasan bersenjata di Maybrat. Satu komandan operasi tewas, dua komandan batalyon tewas, dua jenazah masih di sungai, dan puluhan orang lain di hutan belum menyerahkan senjata. Yang berakhir pekan ini adalah pengejaran terhadap satu orang. Sejarah kelompok itu tetap berdiri, dan kewajiban negara untuk melindungi warga sipil di kampung-kampung Maybrat juga belum selesai. [45] [46]
Kepolisian menyebut Manfret Fatem buron dalam kasus pembunuhan seorang warga sipil di Distrik Aifat Timur, Maybrat.
Pos Koramil Persiapan Kisor, Maybrat, diserang: empat prajurit TNI AD tewas, dua luka. Polisi menetapkan 17 orang sebagai daftar pencarian orang, termasuk Manfret Fatem.
Prajurit Yon Zipur 20/PPA yang membangun jembatan Fankario-Kamat, Aifat Timur, ditembaki: Serda Miskel Rumbiak tewas, empat luka.
Empat belas pekerja proyek jalan Trans Bintuni-Maybrat diserang di Moskona: empat tewas, satu hilang, dua alat berat dan tiga truk dibakar.
Pos Bousha, Aifat Selatan, diserang saat hari Natal: satu prajurit Yonif 133/Yudha Sakti tewas, satu luka.
Tiga puluh warga Maybrat yang bergabung dengan kelompok Manfret Fatem kembali ke NKRI, mengaku bergabung karena diintimidasi dengan senjata.
TPNPB mengimbau warga sipil di Sungai Rawara mengungsi dan menyebut penembakan Kepala Komnas HAM Papua Frits Ramandey sebagai hal yang sah.
Marinir merebut Muara Oasin, Aifat Selatan, dari kubu Manfret Fatem; The Jakarta Post menyebut kelompok itu meneror warga, menyerang pos militer, dan menyergap kendaraan.
Pos Tinjau Kampung Sorry, Aifat Selatan, diserang: dua prajurit TNI AL gugur, satu luka, dua senjata dan 75 butir amunisi dirampas.
Polda Papua Barat Daya menetapkan tujuh orang, termasuk Manfret Fatem, Anton Fatem, dan Yohanes Ky, sebagai tersangka dan buron.
Sepuluh anggota Kodap IV Sorong Raya kembali ke NKRI dan menyerahkan enam pucuk senjata.
Tiga warga sipil di Kampung Ainod, Maybrat, luka tembak. Menurut kesaksian korban, pelaku adalah aparat berseragam; peristiwa ini masih didalami dan tidak dihitung sebagai kejahatan kelompok bersenjata.
Seorang pimpinan kelompok bersenjata Sorong Raya menyerahkan diri ke pos TNI di Maybrat.
Komnas HAM memfasilitasi pemulangan puluhan perempuan dan anak asal Maybrat yang bertahan di hutan selama kurang lebih enam tahun.
Sejumlah warga pengungsi Maybrat kembali ke kampungnya.
Dua pimpinan Kodap IV Sorong Raya, Arso Aisnak dan Yohanes KY, tewas dalam kontak senjata di hutan Distrik Aifat.
TPNPB mengeluarkan siaran pers duka untuk Arso Aisnak dan Yohanes KY, dan mengklaim salah satunya meninggal setelah disiksa di dalam mobil aparat. Klaim itu tidak diverifikasi pihak independen.
Penyergapan di hutan sebelah utara Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur: Manfret Fatem tewas di lokasi; Anton Fatem dan Yesias Fatem tewas saat melarikan diri ke arah Sungai Kamundan dan jenazahnya diduga tenggelam. Disita AK-101, Caracal, puluhan butir amunisi, dan bendera Bintang Kejora.
Pangkogabwilhan III menyatakan penyergapan itu didukung informasi intelijen bernilai A1 dari BIN. Kapolres Maybrat menyatakan situasi kondusif dan tidak menambah personel.
Pagi itu sebelas orang naik truk dari Kenyam menuju Batas Batu, membawa beras untuk dijual, uang kembalian, dan janji akan pulang sore. Tidak satu pun dari mereka sampai di rumah.
Dari 28 insiden yang kami dokumentasikan, 82 warga sipil Papua tewas. Sebagian diklaim kelompok bersenjata sendiri. Perusahaan di balik film yang mereka sebut membantu kampanye menerima hibah 251.983 dolar dari lembaga pimpinan George Soros.
Markas Pusat KOMNAS TPNPB memerintahkan seluruh wartawan memuat berita perang hanya dari satu pintu mereka, sehari setelah sebuah media Papua memuat pernyataan solidaritas untuk film yang kelompok itu sebut membantu kampanye operasi militer.
Rekaman yang diunggah 18 Agustus 2026 memuat seruan tembak terhadap Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, disertai larangan agar Pigai berhenti masuk Papua. Pernyataan tertulis yang menyertainya meminta PBB memasukkan namanya ke daftar hitam.
Selama tujuh bulan, penyidik Polda Papua menelusuri siapa yang membeli senjata, siapa yang menyumbang uang, dan siapa yang menyediakan peluru. Perkara yang bermula dari satu transaksi di pertigaan lampu merah Pasar Lama Sentani itu kini menyeret 17 tersangka, dengan barang bukti 298 butir amunisi, magazen SS1, satu senjata rakitan, dan enam laras senjata bekas Perang Dunia II.
Pasukan gabungan TNI lebih dulu meminta kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya meletakkan senjata di hutan Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Sabtu malam 3 Oktober 2026. Jawabannya tembakan peluru tajam. Dua komandan mereka tewas, tidak ada prajurit yang terluka, dan Manfret Fatem melarikan diri. Dari lokasi, aparat mengamankan satu revolver, amunisi, radio komunikasi, dan dua lembar bendera Bintang Kejora.
Dari sebuah tempat di Papua Nugini, juru bicara TPNPB-OPM ini telah delapan tahun menyampaikan kalimat yang sama: kami bertanggung jawab, mereka mata-mata, dan kami akan melanjutkan. Feature ini menyusun kembali pengakuannya sendiri, lalu memeriksa dari mana uang untuk senjata itu benar-benar datang. Jawabannya bukan dari luar negeri. Berkas pengadilan menyebut oknum aparat, dana desa, tambang emas tanpa izin, dan pungutan kepada warga Papua sendiri.
Situs ini berdiri di sisi pemerintah Indonesia: Papua adalah bagian sah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan tidak ada satu pun negara di dunia yang mengakui “pemerintahan” yang ia deklarasikan. Dossier ini memeriksa klaim seorang figur di pengasingan terhadap dokumen publik — angka korban yang tak pernah terbukti, petisi yang tidak ada di Markas PBB, pembukuan yang tidak pernah dibuka — dan mencatat siapa yang membayar harganya di Tanah Papua.
Selama 13 tahun ia mengantar penumpang dan logistik menembus jalur Trans Wamena–Nduga yang berat dan berbahaya, setiap hari mengorbankan dirinya demi bisa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Wamen-Nduga, namun pengorbanan itu tidak dianggap cukup berharga bagi TPNPB. Nyawanya direnggut, dicabik dengan sekejam itu. Pada 15 September 2026 ia dicegat di pertigaan Danau Habema, dipaksa mengucapkan dukungan bagi Papua Merdeka di depan kamera, lalu ditembak dan dibakar bersama mobilnya.
Satu guru meninggal dan enam luka di Distrik Anggruk, Yahukimo, pada Maret 2025. Di balik koreksi angka korban, ada pertanyaan yang jarang diajukan: uang layanan mengalir besar ke kabupaten ini, tetapi tidak ada satu pun anggaran untuk melindungi orang-orang yang mengajar di dalamnya.
Dua guru dari Toraja dibunuh pada 8 dan 9 April 2021 di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. Dua hari kemudian, 12 ruang sekolah dan rumah guru sudah rata dengan tanah, dan sekitar 400 anak kehilangan tempat belajar. Pemerintah menilai kerugiannya Rp 7,2 miliar. Yang belum pernah masuk hitungan siapa pun: biaya melindungi orang-orang yang mengajar di sana.
Pilot sipil Selandia Baru itu mendarat di Paro pada 7 Februari 2023, lalu menghilang dari dunia luar selama 19 bulan. Ini catatan lengkap dari hari pertama sampai serah terima di Jakarta — termasuk hal-hal yang sampai kini masih diperdebatkan.
Jejak organisasi dan penggalangan dana dapat diperiksa. Untuk menyatakan uang membiayai kelompok bersenjata, diperlukan rantai bukti yang menghubungkan pemberi, penerima, transaksi, dan penggunaan.