IDEN
← Feature & penelusuran
Feature / Kekerasan bersenjata

Zakarias Fatem dan OPM Kodap IV Sorong Raya Bunuh Empat Pekerja Trans-Papua

Empat pekerja jalan Trans-Papua ditembak mati di perbatasan Teluk Bintuni–Maybrat pada 29 September 2022, lalu dua truk proyek dan dua ekskavator dibakar. Pengakuan kelompok bersenjata OPM menempatkan penyerangan itu di bawah Kodap IV Sorong Raya, komando tempat Zakarias Fatem menjabat wakil panglima. Lima tahun sebelumnya hingga kini, komando yang sama tercatat menyerang pos aparat, pekerja, dan proyek pembangunan di Maybrat dan koridor Moskona.

Zakarias Fatem duduk mengenakan kaus oranye dalam dokumentasi penangkapan oleh Korps Marinir TNI AL
Foto: Dok. Dispen Kormar TNI AL via Kompas.com, 14 Oktober 2026, dipakai dengan kredit

Empat pekerja yang tidak pernah pulang

Pada Kamis, 29 September 2022, sekitar pukul 16.00 WIT, empat pekerja jalan Trans-Papua ditembak mati di ruas yang menghubungkan Distrik Moskona Barat dengan wilayah Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Keempatnya pekerja proyek Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Papua Barat, karyawan sebuah perusahaan konstruksi: Abas, Yafet, Darmin, dan Armin. [4]

Setelah menembak para pekerja, pelaku membakar dua truk proyek dan dua alat berat ekskavator. Proyek jalan itu terhenti, dan akses ke sejumlah kampung pedalaman terputus. [4]

Kepolisian menyebut jumlah pekerja di lokasi dua belas orang, sebelas laki-laki dan satu perempuan. DPR Papua Barat menyebut angka berbeda, empat belas orang. Yang tidak berbeda adalah jumlah korban tewas: empat orang. Seorang pekerja lain dilaporkan belum ditemukan pada pemberitaan awal, dan seorang lagi tertembak di lengan.

Empat nama itu tidak pernah masuk ke ruang pengadilan. Tidak ada putusan, tidak ada pertanggungjawaban pidana bagi siapa pun atas kematian Abas, Yafet, Darmin, dan Armin. [1] [2]

Yang mengaku dan yang ditunjuk polisi

Juru bicara kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka, Sebby Sambom, mengaku kepada beberapa media pada hari yang sama bahwa penyerangan itu tanggung jawab kelompoknya di bawah komando Kodap IV Sorong Raya. Ia menyebut dua nama: Denny Moos dan Zakarias Fatem.

Pengakuan itu diperkuat keterangan komandan operasi kodap tersebut, yang menyebut menerima laporan lapangan dari wakil komandan operasinya, Manfret Fatem. Dalam struktur yang mereka sebut sendiri, Zakarias Fatem duduk sebagai wakil panglima. [5] [6]

Kepolisian Papua Barat memberi keterangan lebih tegas dan tidak menyebut Zakarias Fatem. Kapolda Papua Barat saat itu menyatakan kelompok penyerang pekerja dipimpin Manfret Fatem, yang menurut catatan polisi berstatus buron kasus penyerangan Posramil Kisor 2021. Polisi juga menyeret sejumlah pemimpin batalion ke daftar pencarian orang. [7]

Dua versi itu berujung pada dua kesimpulan berbeda tentang peran Zakarias Fatem. Pengakuan kelompoknya menempatkan dia di garis komando. Penetapan polisi tidak, dan namanya tidak ada dalam daftar pencarian orang kasus pekerja jalan itu. Perbedaan ini penting dicatat karena menyangkut tuduhan pidana, bukan hanya perbedaan penulisan nama. [8]

Rekam jejak komando: dari Kisor sampai Maybrat

Yang tidak diperdebatkan siapa pun adalah rekam jejak komando itu. Serangan-serangannya terhadap pos aparat, pekerja, dan proyek pembangunan tersebar dalam pemberitaan lima tahun terakhir, dengan korban yang teridentifikasi dan lokasi yang jelas. [10]

2 September 2021. Posramil Kisor, Kabupaten Maybrat, diserang. Empat prajurit TNI tewas, dua lainnya luka. Ribuan warga sipil mengungsi ke hutan. Laporan lembaga pemantau mencatat angka pengungsi yang berbeda-beda: 2.086 orang pada laporan koalisi September 2021, 2.768 orang menurut pemberitaan Oktober 2021, dan 3.387 orang dalam laporan April 2024. [11]

20 Januari 2022. Pos TNI di jembatan Sungai Aifuf, Distrik Aifat Timur Tengah, diserang. Seorang prajurit tewas. Juru bicara kelompok menyebut anggota divisi Sorong Raya yang terlibat berada di bawah komando Denny Moos dan wakilnya, Zakarias Fatem. [12]

30 November 2023. Aparat menggagalkan rencana pengibaran bendera kelompok di dekat sebuah sekolah menengah di Aifat. Warga sekitar terintimidasi, meski tidak ada korban jiwa. [13]

3 Desember 2023. Rombongan Bupati Maybrat bersama Pangdam, Dandim, dan Kapolres diserang di Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur. Kelompok itu mengklaim menewaskan seorang prajurit TNI dan menghabisi seorang penjaga kios yang mereka tuding sebagai penembak jitu. [14]

15 Desember 2023 dan 25 Desember 2023. Dua pos TNI di Distrik Aifat Selatan diserang berurutan: Pos Kampung Sory dan Pos Kampung Bousah pada hari Natal. Seorang prajurit luka pada serangan pertama, seorang prajurit tewas pada serangan kedua. [15] [16]

22 Februari 2024. Proyek pembangunan puskesmas di Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah, diserang. Tidak ada korban jiwa, tetapi pekerja trauma dan proyek berhenti. Aparat menyebut penyerang bagian dari kelompok yang berbasis di Aifat. [17]

13 Januari 2025 dan 12 Oktober 2025. Pos militer di Moskona Barat, Teluk Bintuni, diserang; kelompok itu mengklaim tiga prajurit TNI tewas. Sembilan bulan kemudian, Pos TNI Moyeba di Moskona Utara diserang, seorang prajurit gugur dan senjata dirampas. [18]

22 Maret 2026. Pos militer Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, diserang. Dua prajurit Marinir tewas dan seorang lainnya kritis. Dalam siaran persnya, kelompok itu mengklaim delapan aparat tewas dan mengaku menyita senjata; versi resmi aparat tetap dua prajurit tewas. [19]

2 Juni 2026. Truk militer diserang di jalur sekitar empat kilometer dari Kampung Framniawai menuju Aifat Timur Jauh. Kelompok itu mengklaim dua prajurit TNI tertembak.

3 Oktober 2026. Kontak senjata di Distrik Aifat Selatan. Aparat menyatakan dua anggota kelompok tewas. Kelompok itu menyebut lokasi kejadian dekat permukiman warga. [20]

9 Oktober 2026. Kontak tembak di hutan sebelah utara Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur. Tiga orang tewas. Brigjen TNI Riyanto menyebut satu di antaranya teridentifikasi sebagai Manfret Fatem, komandan operasi komando tersebut. Dua nama lain yang dilaporkan ikut tewas, Anton Fatem dan Yesias Fatem, disebut sebagai komandan batalyon. [11]

Ancaman kepada pejabat dan proyek pembangunan

Pada 12 Juli 2022, komando itu mengeluarkan daftar pencarian orang versinya sendiri terhadap Gubernur Papua Barat saat itu dan mengancam akan menembak pejabat yang mendukung pembentukan provinsi baru di Papua. Yang tampil menyampaikan ancaman itu adalah panglima dan komandan operasinya. Zakarias Fatem tidak disebut dalam pernyataan tersebut.

Pada Januari 2024, aparat menyita dan menghancurkan markas komando itu di Dusun Sagu, Distrik Aifat Timur Jauh. Dua orang yang disebut simpatisan ditangkap. Pada 2 September 2025, Marinir menguasai lima markas kelompok itu di Aifat.

Empat pekerja jalan, empat prajurit di Kisor, seorang prajurit di Aifuf, seorang prajurit di Bousah, dua prajurit Marinir di Sori, seorang prajurit di Moyeba. Itu daftar korban yang tercatat dalam pemberitaan lima tahun terakhir, di luar puluhan korban lain yang dicatat instansi berbeda dengan angka yang tidak selalu sama. Yang tetap sama adalah lokasinya: Maybrat, Aifat, dan koridor Moskona. [24]

Warga sipil menanggung beban paling panjang. Ribuan orang mengungsi berbulan-bulan, anak-anak kehilangan sekolah, dan proyek jalan serta puskesmas yang mestinya menopang hidup mereka justru menjadi sasaran serangan.

Siapa Zakarias Fatem dalam struktur itu

Kodap IV Sorong Raya adalah komando daerah pertahanan dalam struktur TPNPB-OPM. Wilayahnya meliputi Kabupaten Maybrat serta kawasan Sorong Raya, yang kini berada di Provinsi Papua Barat Daya.

Panglima daerahnya dalam seluruh pemberitaan yang ditemukan adalah Denny Moos, dengan varian ejaan Denny Moss, Deni Moos, dan Denimos. Komandan operasinya sejak akhir 2022 adalah Manfret Fatem, tewas pada 9 Oktober 2026. Zakarias Fatem menjabat wakil panglima, dan namanya tercatat pada jabatan itu paling lambat sejak Januari 2022. [21] [22]

Pada 27 Januari 2024, komando itu menerbitkan siaran pers dengan blok tanda tangan berisi Denny Moos sebagai panglima daerah, Zakarias Fatem sebagai wakil, dan Arnoldus Yansen Kocu sebagai komandan operasi. Surat itu juga mengklaim aparat menyerang markas “Wakil Panglima” dengan mortir dan menghancurkan lima rumah.

Pangkat yang dilekatkan kepadanya dalam siaran itu, “Kolonel”, adalah pangkat dalam struktur mereka sendiri, bukan pangkat TNI atau Polri. Menulisnya tanpa keterangan itu membuat pembaca salah memahami kedudukannya.

Penangkapan 14 Oktober 2026

Setelah komandan operasinya tewas, kelompok itu kehilangan kontak dengan wakil panglimanya. Juru bicaranya menyampaikan pada 11 Oktober 2026 bahwa Zakarias Fatem bersama tiga anggotanya belum diketahui keberadaannya setelah kontak senjata di Sungai Kumandan. [22] [23]

Tiga hari kemudian, Rabu 14 Oktober 2026 pukul 00.45 WIT, prajurit Satgas Gobang VII Yonif 9 Marinir masuk ke sebuah rumah di wilayah Papua Barat Daya. Operasi itu dipimpin Letkol Marinir Laili Nugroho. Tidak ada perlawanan dan tidak ada letusan senjata.

“Melalui operasi penyergapan, prajurit Satgas Gobang VII Yonif 9 Marinir menangkap Zakarias Fatem yang disebut sebagai Wakil Panglima Kodap IV Soraya OPM dalam keadaan hidup,” demikian bunyi keterangan Dinas Penerangan Korps Marinir. Siaran itu tidak menyebut kampung, distrik, atau kabupaten tempat penangkapan.

Dalam rekaman video yang diterima Kompas.com dan dikutip pada 15 Oktober 2026, Fatem berbicara tentang dirinya sendiri. “Saya Zakarias Fatem, Wakil Panglima Kodap IV Sorong Raya karena ditangkap Marinir. Terima kasih, saya dikasih hidup, dikasih makan,” katanya. Ia juga mengimbau anggota yang masih di hutan agar menyerah.

Pernyataan itu diucapkan setelah ia berada dalam penguasaan aparat, bukan dalam keadaan bebas. Redaksi menyajikannya sebagai pernyataan yang direkam aparat penangkap.

Yang belum terbukti di pengadilan

Sampai 15 Oktober 2026, tidak ada satu pun pernyataan resmi kepolisian atau TNI yang menautkan Zakarias Fatem ke tindak pidana tertentu. Keterangan Korps Marinir saat penangkapan hanya menyebut pemeriksaan untuk menggali dugaan aktivitas dan keterlibatannya dalam kelompok bersenjata di wilayah Papua Barat Daya.

Ia tidak masuk daftar pencarian orang kasus Posramil Kisor 2021 maupun kasus penembakan pekerja jalan 2022. Untuk kasus penyerangan pos di Kampung Sori pada 2026, polisi menetapkan tujuh tersangka buron dengan inisial, salah satunya “ZA”, tanpa pernah menerbitkan nama lengkap, sehingga inisial itu tidak dapat dipastikan merujuk kepadanya.

Belum ada penetapan tersangka, surat penahanan, maupun keterangan resmi soal langkah hukum berikutnya. Kelompok bersenjata itu meminta agar anggotanya yang ditangkap hidup tidak disiksa dan diperlakukan sesuai hukum humaniter.

Tidak ada data publik soal tanggal lahir, usia, kampung asal, orang tua, maupun pendidikan Zakarias Fatem. Karena tidak ada sumber, identitas pribadinya tidak disimpulkan di halaman ini.

Zakarias Fatem dan Manfret Fatem adalah dua orang berbeda meski satu marga dan satu komando. Nama lain dalam marga yang sama, Sepnat, Rendy, dan Alfin Fatem, muncul dalam daftar pencarian orang 2021 dan 2022. Kesamaan marga ini sumber kekeliruan yang paling mudah terjadi.

Catatan yang masih terbuka

Empat pekerja jalan yang tewas pada 2022 tidak pernah mendapat putusan pengadilan. Posramil Kisor, Pos Aifuf, Pos Sory, Pos Bousah, Pos Sori, Pos Moyeba, proyek puskesmas Ayata, dan jalan Trans-Papua di Moskona menjadi catatan yang tetap terbuka bagi komando yang kini kehilangan panglima operasi dan wakil panglimanya dalam sepekan.

Kronologi

  1. Posramil Kisor, Maybrat, diserang; empat prajurit TNI tewas dan ribuan warga mengungsi.

  2. Pos TNI di jembatan Sungai Aifuf diserang; seorang prajurit tewas.

  3. Komando itu mengancam akan menembak pejabat yang mendukung pembentukan provinsi baru di Papua.

  4. Empat pekerja jalan Trans-Papua ditembak mati; dua truk dan dua ekskavator dibakar.

  5. Rencana pengibaran bendera di dekat sekolah menengah di Aifat digagalkan; warga terintimidasi.

  6. Rombongan bupati dan pangdam diserang di Kampung Kamat; seorang prajurit dan seorang warga tewas menurut klaim kelompok.

  7. Pos TNI Kampung Bousah diserang pada hari Natal; seorang prajurit tewas.

  8. Proyek puskesmas di Kampung Ayata diserang; pekerja trauma dan proyek berhenti.

  9. Pos TNI Moyeba, Moskona Utara, diserang; seorang prajurit gugur dan senjata dirampas.

  10. Pos militer Kampung Sori diserang; dua prajurit Marinir tewas. Kelompok mengklaim delapan aparat tewas.

  11. Kontak tembak di hutan utara Kampung Kamat; komandan operasi Manfret Fatem dan dua orang tewas.

  12. Wakil panglima komando itu, Zakarias Fatem, ditangkap hidup tanpa perlawanan di Papua Barat Daya.

Jejak sumber

Periksa laporan asal

  1. Kompas.com — Polisi Sebut Pelaku Penembakan Pekerja di Teluk Bintuni Kelompok TPNPB-OPM2022-09-30 ·
  2. iNews.id — TPNPB Kodap IV Sorong Raya Klaim Bertanggung Jawab atas Penembakan 4 Pekerja Jalan2022-09-30 ·
  3. Suara Papua — TPNPB OPM Mengaku Bantai Empat Pekerja Jalan di Teluk Bintuni2022-09-30 ·
  4. Kompas.id — Penyerangan 14 Pekerja Hambat Pembangunan Jalan di Daerah Terpencil2022-10-01 ·
  5. CNN Indonesia — Pekerja Jalan Trans Papua yang Dibantai OPM Karyawan CV Doreri2022-10-01 ·
  6. Kompas.com — Posramil Kisor Diserang, 4 Prajurit TNI Gugur2021-09-03 ·
  7. Suara Papua — Pasca Kisor, 2.768 Warga Sipil Maybrat Mengungsi ke Hutan2021-10-03 ·
  8. BenarNews — Indonesian Military Blames Pro-Independence Group for Deadly Attack2022-01-21 ·
  9. detikcom — TNI Gagalkan Rencana TPNPB Kibarkan Bendera Bintang Kejora di Maybrat2023-12-03 ·
  10. Fajar Papua — Serang Rombongan Bupati dan Pangdam, OPM Klaim Tembak Mati Satu Prajurit TNI2023-12-06 ·
  11. Seputar Papua — KKB Klaim Tembak Dua Orang Aparat Keamanan di Maybrat2023-12-16 ·
  12. detikcom — Tangkap 2 Simpatisan, TNI Kuasai Markas KKB Manfred Fatem di Maybrat2024-01-29 ·
  13. detikcom — TNI KKB Papua Penyerang Proyek Puskesmas Ingin Hambat Pembangunan di Maybrat2024-02-27 ·
  14. Suara Papua — Kibarkan Bendera BK, TPNPB Kodap IV Sorong Raya Klaim Tembak Tiga Anggota TNI2025-01-13 ·
  15. detikcom — Marinir Kuasai 5 Markas OPM di Maybrat2025-09-02 ·
  16. Suara Papua — Dua Prajurit TNI-AL Gugur Dalam Kontak Tembak di Maybrat2026-03-22 ·
  17. TOMEI.id — TPNPB Klaim Serangan di Maybrat, Sebut 8 Aparat Tewas dan Sita Senjata2026-03-27 ·
  18. Beritasatu — TPNPB-OPM Klaim Tembak 2 Prajurit TNI di Maybrat2026-06-04 ·
  19. Suara Papua — Dua Anggota TPNPB-OPM Dilaporkan Tewas, Kedua Pihak Beri Versi Berbeda2026-10-08 ·
  20. ANTARA News — TNI: Komandan operasi OPM dan dua anggota tewas di Maybrat2026-10-09 ·
  21. ANTARA News — Prajurit Marinir tangkap salah satu petinggi OPM2026-10-14 ·
  22. Kompas.com — Marinir Tangkap Wakil Panglima Daerah OPM di Papua Barat Daya2026-10-14 ·
  23. Kompas.com — Diringkus Marinir pada Dini Hari, Wakil Panglima Daerah OPM: Saya Menyerah2026-10-15 ·
  24. Jubi Papua — TPNPB Sorong Raya Sampaikan Ancaman pada Pejabat Indonesia di Tanah Papua yang Dukung DOB2022-07-12 ·
  25. OPPB — Siaran pers Kodap IV Sorong Raya (blok tanda tangan Denny Moos, Zakarias Fatem, Arnoldus Yansen Kocu)2024-01-27 ·

Baca juga

Bangunan sekolah berdinding kayu dengan aparat di depannya
Foto: Kompas.id, dipakai dengan kredit
Feature / Kekerasan terhadap warga sipil

OPM Eksekusi Guru di Dekai, Ancam Tembak Tukang Bangunan sampai Penjual Bakso

Seorang guru ditembak mati di sebuah ruko di Kota Dekai, Yahukimo, 11 Oktober 2026. Kelompok bersenjata yang mengaku sebagai TPNPB Kodap XVI menyatakan bertanggung jawab, lalu mengumumkan daftar warga sipil berikutnya: tukang bangunan, tukang ojek, sopir taksi, penjual bakso, pemilik kios, sampai warga pendatang.

Pria Papua muda bersenjata laras panjang dengan ikat kepala
Foto: dok. istimewa, dimuat detikcom 9 Februari 2023, dipakai dengan kredit
Feature / Profil

Ancaman Teror Egianus Kogoya Terus Berlanjut: Pembantai Warga Sipil Nduga Masih Buron, 65 Aksi Sejak 2017

Egianus Kogoya lahir di Distrik Mugi pada 1999, putus sekolah di Wamena, dan dilantik menjadi panglima Kodap III Ndugama-Derakma pada 16 Oktober 2018. Ayahnya salah satu penyandera tim ekspedisi Lorentz tahun 1996. Sejak 2017, kepolisian mencatat 65 aksi kekerasan atas nama kelompoknya: pekerja jalan, guru, tenaga kesehatan, pendeta, ustaz, sopir, dan tiga pegawai pertanian. Egianus Kogoya masih buron.

Senjata api, amunisi, dan telepon seluler tergeletak di atas bendera Bintang Kejora
Foto: ANTARA/HO-Penerangan Koops TNI Habema, 9 Oktober 2026, dipakai dengan kredit
Feature / Operasi keamanan

OPM Kodap IV Sorong Raya Tumbang di Maybrat: Manfret Fatem Pembunuh Warga Sipil Tewas

Pasukan gabungan TNI sudah menunggu di jalur pelintasan antara Sungai Frambu dan Sungai Kamundan ketika Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Manfret Fatem berjalan masuk bersama dua komandan batalyonnya. Pria yang diburu polisi sejak 2020 dan disebut sebagai otak pembunuhan empat pekerja jalan Trans-Papua itu tewas di lokasi. Dua komandannya tewas di sungai.

Basis data hibah OSF: Watchdoc Media Mandiri 2022, 251.983 dolar
Tangkapan layar: opensocietyfoundations.org, diakses 9 Oktober 2026
Feature / Penelusuran korban & pendanaan

TPNPB Bunuh 82 Warga Sipil Papua, dari Guru sampai Pendulang Emas

Dari 28 insiden yang kami dokumentasikan, 82 warga sipil Papua tewas. Sebagian diklaim kelompok bersenjata sendiri. Perusahaan di balik film yang mereka sebut membantu kampanye menerima hibah 251.983 dolar dari lembaga pimpinan George Soros.

Bingkai resmi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita
Gambar: kanal Jubi TV di YouTube, film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (diunggah 22 Mei 2026)
Feature / Penelusuran klaim & pendanaan

TPNPB Larang Wartawan Terima Laporan Perang, Media Papua Ditegur

Markas Pusat KOMNAS TPNPB memerintahkan seluruh wartawan memuat berita perang hanya dari satu pintu mereka, sehari setelah sebuah media Papua memuat pernyataan solidaritas untuk film yang kelompok itu sebut membantu kampanye operasi militer.

Bingkai rekaman pernyataan juru bicara TPNPB
Bingkai rekaman: kanal YouTube West Papua
Laporan penelusuran

TPNPB Ancam Tembak Menteri HAM Natalius Pigai

Rekaman yang diunggah 18 Agustus 2026 memuat seruan tembak terhadap Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, disertai larangan agar Pigai berhenti masuk Papua. Pernyataan tertulis yang menyertainya meminta PBB memasukkan namanya ke daftar hitam.

Barang bukti amunisi dan magazen dalam pengungkapan jaringan suplai di Jayapura
Foto: Satgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 (via papua60detik.id)
Laporan penelusuran

17 Tersangka, 298 Butir Amunisi: Polisi Sebut Jaringan Suplai Senjata ke Kelompok Bersenjata di Jayapura

Selama tujuh bulan, penyidik Polda Papua menelusuri siapa yang membeli senjata, siapa yang menyumbang uang, dan siapa yang menyediakan peluru. Perkara yang bermula dari satu transaksi di pertigaan lampu merah Pasar Lama Sentani itu kini menyeret 17 tersangka, dengan barang bukti 298 butir amunisi, magazen SS1, satu senjata rakitan, dan enam laras senjata bekas Perang Dunia II.

Seorang prajurit memeriksa barang bukti termasuk bendera Bintang Kejora dan senjata api
Foto: Okezone, dimuat dalam laporan 4 Oktober 2026, dipakai dengan kredit
Feature / Operasi keamanan

Persuasi dijawab peluru tajam: dua algojo Manfret Fatem tewas di hutan Maybrat

Pasukan gabungan TNI lebih dulu meminta kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya meletakkan senjata di hutan Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Sabtu malam 3 Oktober 2026. Jawabannya tembakan peluru tajam. Dua komandan mereka tewas, tidak ada prajurit yang terluka, dan Manfret Fatem melarikan diri. Dari lokasi, aparat mengamankan satu revolver, amunisi, radio komunikasi, dan dua lembar bendera Bintang Kejora.

Seorang pria memegang senapan laras panjang dengan bendera Bintang Kejora di latar belakang
Foto: WartaPlus (wartaplus.com), dipakai dengan kredit
Feature / Penelusuran klaim & pendanaan

Dari “Mata-Mata” hingga Pemerasan: Menelusuri Delapan Tahun Narasi dan Pendanaan TPNPB-OPM

Dari suatu tempat di Papua Nugini, Sebby Sambom selama delapan tahun menyampaikan pola pernyataan yang hampir tidak berubah, kami bertanggung jawab, mereka adalah mata-mata, dan aksi akan terus berlanjut. Nama korbannya berganti-ganti dari pekerja jalan, guru, tenaga kesehatan, pendulang emas, sopir, hingga pilot sipil. Alasannya nyaris selalu sama. Tulisan ini menyusun kembali pernyataan-pernyataan itu sejak 2018 hingga 2026, lalu mengujinya terhadap dokumen pengadilan, keterangan pemerintah daerah, catatan lembaga resmi, dan sumber yang dapat diperiksa. Dari sana muncul dua pertanyaan yang lebih besar, apakah tuduhan terhadap para korban pernah dibuktikan, dan dari mana uang serta senjata untuk mempertahankan konflik itu sebenarnya berasal? Jejak dokumennya menghasilkan gambaran yang berbeda dari narasi yang selama ini beredar. Panggung politiknya memang mencapai luar negeri. Tetapi perkara-perkara yang telah masuk ruang pengadilan menunjukkan bahwa sebagian senjata, amunisi, dan uang justru bergerak dari dalam negeri, melalui oknum aparat, dana desa, tambang emas tanpa izin, hingga pemerasan terhadap masyarakat Papua sendiri. Di sinilah muncul sebuah ironi yang sulit diabaikan, kelompok yang mengklaim berjuang untuk masyarakat Papua justru memperoleh sebagian sumber dananya dari orang-orang yang mereka klaim bela.

Benny Wenda dengan pakaian adat Papua dan tifa dalam sebuah acara di Sydney
Foto: TEDxSydney / Fe Lumsdaine (CC BY-SA 2.0), via Wikimedia Commons
Feature / Penelusuran klaim & pendanaan

Benny Wenda: klaim tanpa bukti, dana tanpa pembukuan, dan warga sipil yang jadi korban

Situs ini berdiri di sisi pemerintah Indonesia: Papua adalah bagian sah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan tidak ada satu pun negara di dunia yang mengakui “pemerintahan” yang ia deklarasikan. Dossier ini memeriksa klaim seorang figur di pengasingan terhadap dokumen publik — angka korban yang tak pernah terbukti, petisi yang tidak ada di Markas PBB, pembukuan yang tidak pernah dibuka — dan mencatat siapa yang membayar harganya di Tanah Papua.

Aris Sanda alias Bapak Tasya berdiri di samping pikap merahnya di jalur pegunungan Papua
Foto: Fajar Papua. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Laporan khusus / Papua Pegunungan

Pengabdian Aris Sanda Berakhir di Tangan TPNPB

Selama 13 tahun ia mengantar penumpang dan logistik menembus jalur Trans Wamena–Nduga yang berat dan berbahaya, setiap hari mengorbankan dirinya demi bisa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Wamen-Nduga, namun pengorbanan itu tidak dianggap cukup berharga bagi TPNPB. Nyawanya direnggut, dicabik dengan sekejam itu. Pada 15 September 2026 ia dicegat di pertigaan Danau Habema, dipaksa mengucapkan dukungan bagi Papua Merdeka di depan kamera, lalu ditembak dan dibakar bersama mobilnya.

Perabot sekolah dibakar di dalam ruang kelas SD dan SMP satu atap Okbab
Foto: Dok. Istimewa via detikcom. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Laporan khusus / Pendidikan

Anggruk: pagi ketika para guru berlari ke hutan, dan Rosalia tidak kembali

Satu guru meninggal dan enam luka di Distrik Anggruk, Yahukimo, pada Maret 2025. Di balik koreksi angka korban, ada pertanyaan yang jarang diajukan: uang layanan mengalir besar ke kabupaten ini, tetapi tidak ada satu pun anggaran untuk melindungi orang-orang yang mengajar di dalamnya.

Beoga: dua guru, dua hari penembakan
Dokumentasi Redaksi
Feature / Warga sipil

Kilas Balik : Pembunuhan 2 Guru dan Pembakaran Sekolah oleh TPNPB-OPM di Boega-Kab. Puncak

Dua guru dari Toraja dibunuh pada 8 dan 9 April 2021 di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. Dua hari kemudian, 12 ruang sekolah dan rumah guru sudah rata dengan tanah, dan sekitar 400 anak kehilangan tempat belajar. Pemerintah menilai kerugiannya Rp 7,2 miliar. Yang belum pernah masuk hitungan siapa pun: biaya melindungi orang-orang yang mengajar di sana.

Swafoto Phillip Mehrtens di dalam helikopter pada 21 September 2024
Phillip Mehrtens di dalam helikopter pada hari pembebasannya, 21 September 2024. Foto: Kompas.id (dipakai dengan kredit)
Feature / Penerbangan

Kisah Penyanderaan Kapten Phillip Mehrtens: 594 Hari di Belantara Nduga

Pilot sipil Selandia Baru itu mendarat di Paro pada 7 Februari 2023, lalu menghilang dari dunia luar selama 19 bulan. Ini catatan lengkap dari hari pertama sampai serah terima di Jakarta — termasuk hal-hal yang sampai kini masih diperdebatkan.

Menelusuri uang: apa yang dibuktikan dokumen, apa yang belum
Ilustrasi editorial · bukan foto kejadian
Penelusuran / Pendanaan

Menelusuri uang: apa yang dibuktikan dokumen, apa yang belum

Jejak organisasi dan penggalangan dana dapat diperiksa. Untuk menyatakan uang membiayai kelompok bersenjata, diperlukan rantai bukti yang menghubungkan pemberi, penerima, transaksi, dan penggunaan.