Dokumentasi kekerasan bersenjata terhadap warga sipil Papua dan aliran dana yang mengalir di belakangnya
Dokumentasi kekerasan bersenjata terhadap warga sipil Papua dan aliran dana yang mengalir di belakangnya
Investigasi

Guru, Sopir, Petani: Wajah Sipil di Balik Angka Konflik Papua

Mereka tidak memegang senjata, tidak memilih pihak, dan tidak pernah diminta persetujuannya. Delapan tahun catatan serangan terhadap warga sipil di Tanah Papua menunjukkan pola yang sama: yang mati adalah orang-orang yang sedang menjalankan pekerjaannya.

Pada 21 Maret 2025, enam guru tewas di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo. Serangan menyasar gedung sekolah. Pelaku mengklaim para korban adalah agen intelijen. Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah dinyatakan sebagai anggota aparat oleh sumber resmi mana pun. Setelah peristiwa itu, sejumlah sekolah di wilayah tersebut berhenti beroperasi dan sebagian tenaga pengajar memilih keluar dari distrik.

Pada 15 September 2026, Aris Sanda, sopir angkutan umum asal Toraja, ditemukan tewas hangus di dalam mobilnya di ruas Jalan Trans-Papua Wamena–Nduga. Ia sedang bekerja ketika ditembak. TPNPB-OPM mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Jalan yang dibangun untuk menghubungkan kampung telah berubah menjadi garis depan, dan sopir yang melewatinya menanggung risikonya.

Pada 2 Agustus 2026, empat pekerja proyek jalan nasional PT Sutan Harauli Jaya ditembak di kawasan Kali Kabur, Distrik Woniki, Kabupaten Tolikara. Tiga di antara korban adalah orang asli Papua. Pelaku menyatakan serangan itu sebagai awal perang di Tolikara. Empat orang yang sedang membangun jalan untuk kampungnya sendiri tewas karena pekerjaan itu.

Pada 20 Juli 2026, tiga warga sipil dieksekusi di tepi Jalan Trans-Papua di Distrik Seradala, Yahukimo. Korban adalah sepasang suami istri, Kumis Kogoya dan istrinya, serta seorang perempuan dari Suku Unaukam. Kejadian itu terekam video dan beredar luas. Tiga hari kemudian, tim evakuasi jenazah diserang saat menuju lokasi, dan seorang perempuan dari suku yang sama sampai sekarang belum ditemukan.

Pola ini bukan hal baru. Pada 2 Desember 2018, sembilan belas pekerja proyek jembatan Trans-Papua milik PT Istaka Karya tewas ditembak di Kabupaten Nduga. Sebelas di antaranya berasal dari Tana Toraja. Pelaku mengklaim korban adalah prajurit TNI; perusahaan dan aparat memastikan mereka pekerja sipil. Mereka yang selamat menuturkan bagaimana mereka melarikan diri ke hutan tanpa alas kaki.

Sejak 7 Februari 2023, pilot Susi Air berkebangsaan Selandia Baru, Phillip Mark Mehrtens, disandera di Kabupaten Nduga. Penyanderaan itu bukan hanya soal satu orang: penerbangan perintis ke sejumlah distrik terhenti, dan barang kebutuhan masuk lewat jalur darat yang berisiko. Harga semen dan bahan bangunan dilaporkan naik berkali-kali lipat. Warga yang tidak terlibat menanggung biaya konflik yang bukan perbuatannya.

Dampaknya terukur pada layanan dasar. Serangan terhadap guru dan tenaga kesehatan membuat sejumlah puskesmas kehilangan seluruh perawatnya, sementara pasien rujukan harus menembus ruas jalan yang pernah menjadi lokasi penembakan. Anak-anak berjalan berjam-jam untuk pelajaran yang sama, dan sebagian berhenti sekolah sama sekali.

Yang paling jarang dicatat adalah siapa yang menanggungnya. Dari catatan terbuka 2018 hingga 2026, korban tewas sebagian besar bukan pihak bersenjata: guru, sopir, pekerja jalan, petani, perempuan, dan anak-anak. Mereka tidak punya senjata, tidak punya pilihan meninggalkan kampung, dan tidak pernah dimintai pendapat ketika konflik diputuskan berlanjut.

Setiap klaim dalam tulisan ini dapat dilacak ke pemberitaan dan keterangan resmi yang tercantum di bagian sumber. Bila ada angka yang masih berselisih antar pihak, kami menandainya sebagai dalam kajian, bukan sebagai fakta final.

Sumber

Setiap entri yang tayang wajib memiliki tautan sumber dan status verifikasi.