Egianus Kogoya: Pembantai Warga Sipil Nduga, 65 Aksi Sejak 2017 dan Masih Buron
Ia lahir di Distrik Mugi pada 1999, putus sekolah di Wamena, dan dilantik menjadi panglima Kodap III Ndugama-Derakma pada 16 Oktober 2018. Ayahnya salah satu penyandera tim ekspedisi Lorentz tahun 1996. Sejak 2017, kepolisian mencatat 65 aksi kekerasan atas nama kelompoknya: pekerja jalan, guru, tenaga kesehatan, pendeta, ustaz, sopir, dan tiga pegawai pertanian. Egianus Kogoya masih buron.
Foto: dok. istimewa, dimuat detikcom 9 Februari 2023, dipakai dengan kredit; tidak ada foto resmi dari kepolisian
Pagi di jalan Kenyam–Batas Batu
Sabtu pagi, 16 Juli 2022, sekitar pukul 09.15 WIT. Sebuah truk berjalan dari Kenyam menuju Batas Batu, membawa pedagang, seorang ustaz, seorang pendeta, dan penumpang lain yang hanya ingin bekerja hari itu. Di Kampung Nogolait, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, truk itu dihentikan.
Sebelas orang tewas, dua luka. Korban ditemukan di empat titik terpisah: di dekat truk, di depan warung, di tanjakan, dan di dekat mobil bupati. Yang menembak, menurut kepolisian, adalah kelompok bersenjata yang dipimpin seorang pria berusia 23 tahun bernama Egianus Kogoya. [10][11]
Empat hari kemudian, namanya muncul di pemberitaan bukan sebagai tersangka yang dicari, tetapi sebagai orang yang mengaku. “Siapa pun mereka, apakah warga sipil, karyawan, pekerja, apakah orang Papua atau non-Papua, kami tidak akan berkompromi,” katanya, seperti dikutip Jubi. “Kami akan tembak mati sampai Papua merdeka.” [10][11]
Hari ini, lebih dari empat tahun setelah Nogolait, ia masih buron. Tidak ada pengadilan yang pernah mengadili namanya, tidak ada putusan, tidak ada satu pun foto resmi yang dirilis kepolisian. Yang ada: 16 orang yang ditetapkan sebagai daftar pencarian orang, 65 kasus kekerasan yang dicatat kepolisian sejak 2017, dan seorang pria yang berbicara kepada wartawan lewat perantara atau video. [8][9]
Anak dari penyandera 1996
Jejaknya dimulai dari rumah. Ayahnya disebut dalam berbagai catatan sebagai Silas Elimin Kogoya, dan sebagian sumber menyamakannya dengan Daniel Yudas Kogoya. Yang paling sering dikutip tentang dia bukan namanya, melainkan perannya: ia salah satu figur bersenjata Papua yang menyokong penyanderaan 26 orang oleh kelompok bersenjata di Mapenduma pada 8 Januari 1996, termasuk anggota tim Ekspedisi Lorentz. Museum Kopassus, dalam catatan resminya tentang operasi pembebasan itu, menulis bahwa kelompok yang menyandera para peneliti dipimpin “Daniel Yudhas Kagoya dan Kelly Kwalik”.
Ada satu catatan yang perlu ditulis apa adanya. BBC News Indonesia, dalam liputannya tentang pembebasan pilot Susi Air, menyebut “Silas Kogoya dan Daniel Yudas Kogoya” sebagai dua figur berbeda yang menyokong Kelly Kwalik pada 1996. Kami tidak bisa memastikan apakah kedua nama itu satu orang atau dua orang, karena sumber-sumber tidak sepakat. Yang tidak diperdebatkan: seorang tokoh Kogoya dari Nduga terlibat dalam peristiwa 1996 itu, dan anaknya kini memimpin kelompok bersenjata di kabupaten yang sama. Menurut catatan Jamestown Foundation, sang ayah direkrut Kelly Kwalik pada 1970-an dan meninggal pada 2011 karena sakit. [6][54][55]
Egianus lahir pada 1999 di Distrik Mugi, wilayah yang kini masuk Kabupaten Nduga, dan berasal dari suku Dani dengan marga Kogoya. Ia bersekolah dasar di Mugi, lalu pindah ke Wamena untuk SMP pada 2011 dan putus sekolah. Catatan publik yang ada menyebut ia sempat menolak menyanyikan lagu Indonesia Raya dan hormat kepada bendera. [54][56]
Nama ibunya tidak pernah dipublikasikan satu pun sumber yang kami telusuri. Kami tidak menuliskan apa pun tentang ibunya, karena tidak ada yang bisa dipertanggungjawabkan. [1][3]
Persiapan Operasi Mapenduma, 1996Persiapan Operasi Mapenduma tahun 1996, operasi militer pembebasan 26 sandera. Tidak ada foto publik yang terverifikasi menampilkan ayah Egianus Kogoya; yang tersedia hanya dokumentasi peristiwa dan tokoh lain seperti Kelly Kwalik.Foto: Dok. Museum Kopassus TNI AD, dipakai dengan kredit
Nama-nama di sekitarnya
Dalam struktur kelompok bersenjata TPNPB-OPM, Egianus memegang jabatan Panglima Komando Daerah Pertahanan (Kodap) III Ndugama-Derakma, dengan pangkat internal “brigadir jenderal”. Ia dilantik pada 16 Oktober 2018. Perkiraan kepolisian pada 2023: kekuatannya sekitar 50 orang.
Peta Provinsi Papua PegununganWilayah operasi kelompok Kodap III Ndugama-Derakma mencakup Nduga dan menyebar ke Lanny Jaya, Puncak, Yahukimo, Mimika, dan Jayawijaya.Peta: Envapid (CC BY-SA 4.0), via Wikimedia Commons
Di bawahnya tercatat beberapa nama: Pemne Kogoya sebagai komandan operasi Kodap III, dan Rumianus Wandikbo sebagai komandan batalyon atau kepala staf. Di atasnya ada struktur pusat TPNPB: Goliath Tabuni sebagai panglima tertinggi, Terianus Satto sebagai kepala staf umum, dan Sebby Sambom sebagai juru bicara yang berbasis di luar negeri. [3][4]
Dua nama lain sering dikaitkan sebagai saudaranya: Undius Kogoya, yang disebut memimpin Kodap VIII Soanggama di Intan Jaya, dan Ipe Kogoya. Keduanya dilaporkan meninggal pada Oktober 2025; Ipe tewas dalam kontak tembak di Kampung Soanggama, Distrik Homeyo, Intan Jaya. Pemberitaan arus utama hanya memastikan Ipe adalah adik Undius. Kaitan keduanya sebagai saudara Egianus bersumber dari catatan ringkas yang tidak dikonfirmasi aparat, karena itu kami tuliskan apa adanya. [3]
Satu nama lain pernah disebut langsung oleh juru bicara kelompoknya: Edison Gwijangge, mantan penjabat bupati Nduga, yang oleh Sebby Sambom disebut sebagai “keluarga ipar” Egianus. Pada 2024, Sebby menuduh Egianus menerima uang pemerintah melalui Edison. Egianus dan keluarganya membantah. [1][41]
Potret dengan bendera Bintang KejoraFoto Egianus Kogoya yang beredar di media, dengan latar bendera Bintang Kejora. Tidak ada foto resmi dari kepolisian yang pernah dirilis.Foto: BBC News Indonesia, dipakai dengan kredit
Delapan tahun, dan angka yang tercatat
Kepolisian menyebut aksi pertama kelompok ini pada Desember 2017: pembunuhan seorang pekerja jalan Trans-Papua bernama Yovicko Sondakh di Distrik Mugi. Sejak itu, angka resmi yang paling sering dikutip aparat adalah 65 kasus sejak 2017.
Kabid Humas Satgas Damai Cartenz saat itu, Kombes Donny Charles, merinci jenisnya: “pembunuhan, perkosaan, penembakan, perusakan bangunan, pembantaian, dan kejahatan lain yang dilakukan kelompok Egianus Kogoya di Kabupaten Nduga.” Data kepolisian pada 2023 menyebut 56 orang tewas akibat kelompok ini. Rilis lain menyebut 74 orang tewas dan luka bila digabung. [1][35]
Angka-angka itu milik aparat, dan kami menuliskannya sebagai angka aparat. Yang bisa diperiksa siapa pun adalah peristiwanya: nama korban, tanggal, lokasi, dan pengakuan dari mulut kelompok itu sendiri. Itulah yang ada di halaman ini. [35][36]
Guru, tenaga kesehatan, dan empat belas hari di Mapenduma
Oktober 2018. Guru dan tenaga kesehatan di Distrik Mapenduma disandera selama 14 hari. Mereka bekerja di SD YPGRI 1, SMPN 1, dan Puskesmas Mapenduma. Satu korban mengalami luka serius, dan seorang guru dilaporkan diperkosa secara bergiliran oleh anggota kelompok bersenjata. Laporan lain menyebut tiga guru menjadi korban kekerasan seksual.
Alasan yang dipakai saat itu: para guru dan tenaga kesehatan itu dicurigai sebagai intelijen yang menyamar. Kecurigaan yang sama muncul lagi berkali-kali bertahun-tahun kemudian, dan setiap kali korbannya warga sipil yang bekerja di fasilitas publik. [12][13][14]
Dua bulan setelah Mapenduma, tepatnya 2 Desember 2018, giliran pekerja jalan Trans-Papua di Distrik Yigi. Kepala Polri saat itu, Jenderal Tito Karnavian, menyatakan 20 korban: 19 pekerja PT Istaka Karya dan satu personel TNI, dengan empat orang dilaporkan hilang. Pendeta Wilhelmus Kogoya dari gereja Distrik Yigi melaporkan angka yang lebih tinggi, 31 orang tewas; Jubi menyebut 24 pekerja. [12][14]
Sementara itu, siaran pers yang mengaku bertanggung jawab justru membantah korbannya warga sipil. “Target kami tidak salah, kami tahu yang mana pekerja sipil dan mana anggota TNI Zipur,” kata juru bicara TPNPB Sebby Sambom. [15][16][17]
Sebelas nama di Nogolait
Pembantaian Nogolait, 16 Juli 2022, adalah peristiwa yang membuat nama Egianus Kogoya tidak bisa lagi disebut hanya sebagai buron biasa. Yang tewas hari itu: Yulius Watu (23), Hubertus Goti, Daeng Marannu (42, ustaz), Taufan Amir (42), Johan (26), Alex (45), Yuda Nurusinga (42), Nasjen (41), dan Mahmud Ismaun (50, sopir Bupati Nduga). Satu korban lain adalah Pendeta Eliaser Baye (54) dari GKII. Angka korban berkembang dari 9 menjadi 10, lalu 11, setelah satu jenazah ditemukan beberapa hari kemudian.
Kepala Perwakilan Komnas HAM Wilayah Papua, Frits Ramandey, memakai istilah yang berat bagi sebuah negara yang mengklaim wilayahnya aman: “Ini pelanggaran berat dan dikategorikan kejahatan luar biasa. Kekerasan keji ini harus diusut aparat penegak hukum, pembantaian ini juga pernah terjadi di tahun 2018 oleh kelompok yang sama.” [10][11][12]
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia menuntut hal yang sama, dan menambahkan satu permintaan yang berulang sampai hari ini: pembentukan tim investigasi independen untuk mengusut pembunuhan warga sipil di Nogolait. [11]
Selama bertahun-tahun, Nduga membayar harganya bukan hanya dengan jenazah. Gereja Kingmi Papua mencatat sekitar 30.000 jemaatnya mengungsi akibat rangkaian operasi dan kekerasan di wilayah itu. Sekolah berhenti, puskesmas sepi, dan sebagian distrik berubah menjadi kampung kosong. [19][42]
Pilot, dan sembilan belas bulan
Pada 7 Februari 2023, sebuah pesawat Pilatus PC-6 milik Susi Air dibakar setelah mendarat di Bandara Paro, Nduga. Pilotnya, Phillip Mark Mehrtens, warga Selandia Baru, disandera selama 19 bulan sampai 21 September 2024. Lima penumpang sipil sempat ditahan lalu dilepaskan.
Egianus menjelaskan alasannya sendiri. “Saya tangkap pilot itu hanya mau merdeka. Saya tidak pernah minta uang tebusan. Kalau Papua tidak merdeka, kami tidak akan menyerahkan pilot,” katanya pada 2023. Sebelum pesawat itu dibakar, kelompoknya juga dilaporkan mengintimidasi 15 pekerja pembangunan Puskesmas Paro sampai mereka dievakuasi. [23][24]
Yang jarang disebut kemudian: syarat yang dia ajukan bukan uang. Kapolda Papua saat itu, Irjen Pol Mathius Fakhiri, menyatakan kelompok itu meminta senjata api dan amunisi untuk ditukar dengan pilot. “Memang benar Egianus ajukan sejumlah permintaan, di antaranya senjata api dan amunisi yang akan ditukar dengan pilot,” katanya. [23][47][51][52]
Kenyam, ibu kota Kabupaten NdugaKenyam, ibu kota Kabupaten Nduga. Sebagian wilayah ini berubah menjadi kampung kosong setelah rangkaian kekerasan dan operasi sejak 2018.Foto: Pemerintah Kabupaten Nduga (domain publik), via Wikimedia Commons
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan saat itu, Mahfud MD, menolaknya dengan kalimat yang banyak dikutip: “Masak barter senjata dengan pemberontak?” Pemerintah tidak pernah memenuhi syarat itu. [51]
Yang paling sering luput dari pemberitaan: penculikan itu berakhir bukan karena operasi militer, tetapi lewat pendekatan lunak — tokoh agama, gereja, tokoh adat, dan keluarga Egianus sendiri. Pemerintah menyerahkan Mehrtens kepada Duta Besar Selandia Baru pada September 2024. [52]
Setelah Nogolait
16 Agustus 2023, Kampung Yasoma, jalur Batas Batu–Kenyam: tiga warga sipil tewas setelah ditembak dan dianiaya, truk yang mereka tumpangi dibakar. Nama mereka Samsul Ahmad (25), Sthepen Didiwai, dan Michael Rumaropen, dua di antaranya aparatur sipil negara di Nduga. Kapolda Papua saat itu menyebut pelakunya “kemungkinan besar” kelompok Egianus Kogoya.
16 Oktober 2023, Kali EI, Distrik Seradala, Yahukimo: sekelompok pendulang emas menjadi korban. Satu orang kepercayaan Egianus, Rife Kerebea, ditangkap pada 17 Agustus 2024 dan dikaitkan dengan kasus ini, pencurian senjata Brimob 2022, serta Nogolait. [26]
4 Juni 2025, Kampung Kwantapo, Distrik Asotipo, Jayawijaya: dua pekerja pembangunan gereja GKI Imanuel tewas ditembak. Keduanya berasal dari Purwakarta, Jawa Barat: Rahmat Hidayat (45), ditembak di kepala, dan Saepudin (39), ditembak di ketiak. [27][28]
Egianus Kogoya bersama pilot Phillip MehrtensEgianus Kogoya (kiri) bersama pilot Susi Air Phillip Mehrtens, dalam gambar yang dirilis kelompok bersenjata dan diterbitkan media internasional.Foto: BBC News Indonesia (rilis TPNPB), dipakai dengan kredit
Pada 6 Agustus 2025, aparat menangkap Nowaiten Telenggen alias German Ubruangge, yang mengaku terlibat penembakan mobil lapis baja 2022, penembakan pesawat SAM Air di Bandara Kenyam, dan pembantaian Nogolait. Perannya: penyuplai bahan makanan dan pendokumentasi aksi. [48][49]
2026: festival budaya, dan tiga pegawai pertanian
8 Agustus 2026, di dekat pintu masuk Festival Budaya Lembah Baliem di Kampung Walesi, Distrik Walesi, Jayawijaya, dua warga sipil luka tembak: Laode Muhammad Kojo (43) dan Salbiah (50). Peristiwanya berlangsung sekitar pukul 12.45 WIT, dan wisatawan asing dievakuasi dari lokasi. Aparat mengindikasikan kelompok Kodap III Ndugama-Derakma, dan pihak kelompok itu mengaku bertanggung jawab.
9 September 2026, Distrik Muliama, Jayawijaya: sebelas pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya sedang membawa bantuan ternak dan meninjau lokasi program cetak sawah ketika ditembaki. Tiga di antaranya tewas: Aprida Rapi' (49), Albinus Mehan (35), dan Wili Mbuik (24). Delapan orang selamat. Satgas Damai Cartenz menyebut pelakunya kelompok Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya, dan dua tersangka masuk daftar pencarian orang. [30][31]
Sebulan sebelumnya, pada 29–30 Juli 2026, kelompok ini menerbitkan daftar “DPO” versi mereka sendiri: warga Papua dan non-Papua yang dituduh sebagai agen intelijen, disertai ancaman yang tidak meninggalkan ruang tafsir. “Maka kami siap eksekusi dan tembak mati.” [32][33]
Suaranya sendiri
Tidak banyak pimpinan bersenjata Papua yang berbicara sepanjang ini kepada media. Egianus termasuk yang paling sering dikutip, dan kalimat-kalimatnya jarang menghibur pihak yang berharap ia sekadar korban keadaan.
Pada 2020, ia mengklaim kelompoknya membeli senjata dan amunisi dari oknum aparat: “Mereka menjualnya, jadi kami membelinya. Kami membelinya karena kami membutuhkannya untuk pertempuran kami.” Ia juga mengklaim pernah merampas senjata dalam kontak tembak. [5][7]
Pada 4 Oktober 2024, ia memberi wawancara kepada BBC News Indonesia. Isinya keras dan langsung. “Kami akan perang terus sampai Papua lepas,” katanya. “Perang itu kami punya hobi. Kami senang perang.” Dan yang paling banyak dikutip: “Jadi warga sipil non-Papua pun tidak akan kami lepas. Warga sipil non-Papua akan kami tembak.” [7]
Kalimat itu penting bukan karena kerasnya, tetapi karena cocok dengan apa yang terjadi di lapangan: dari Nogolait sampai Muliama, korban kelompok ini justru didominasi orang-orang yang tidak memegang senjata — pedagang, tenaga kesehatan, pendeta, ustaz, pegawai dinas pertanian. [5][8]
Apa yang menuntut, dan apa yang mengungsi
Tuntutan paling sering diulang lembaga hak asasi manusia bukan soal siapa yang berkuasa di Nduga, melainkan soal siapa yang bertanggung jawab atas kematian warga sipil. Komnas HAM Papua meminta pengusutan tuntas pembantaian Nogolait dan menyebutnya kejahatan luar biasa; PGI meminta tim investigasi independen.
Pada 2026, Ketua Komnas HAM Anis Hidayah mencatat enam kasus pelanggaran hak asasi manusia di Papua sepanjang tahun itu dengan 21 orang meninggal, dan menyerukan agar tidak ada pihak — aparat maupun kelompok bersenjata — yang menjadikan warga sipil sasaran. [11][42]
Di sisi lain, kelompok ini punya pengagum di luar negeri yang menyebutnya pejuang kemerdekaan. Yang luput dari sorotan itu adalah nama-nama di halaman ini: pendeta Eliaser Baye, ustaz Daeng Marannu, guru-guru Mapenduma, dua pekerja gereja dari Purwakarta, dan tiga pegawai pertanian Jayawijaya yang mati di jalan berbatu. [44][45]
Statusnya hari ini
Setelah pembakaran pesawat Susi Air, Polda Papua menerbitkan daftar 16 orang yang dicari, dan nama Egianus Kogoya ada di dalamnya. Yang tidak ada: penetapan resmi sebagai organisasi teroris lewat putusan pengadilan, dan hadiah uang untuk penangkapannya. Angka Rp5 miliar yang sempat beredar bukan permintaan kelompok itu. Kapolda Papua menyatakan pemerintah menyiapkan dana hingga jumlah itu sebagai alternatif bila kelompok tersebut meminta uang, sambil menegaskan dua permintaan mereka — kemerdekaan dan senjata — tidak mungkin dikabulkan.
Pada Mei 2026, Markas Pusat TPNPB mengeluarkan siaran pers yang menyatakan Egianus tewas dalam serangan di Nduga pada 18 Mei. Sembilan hari kemudian, pernyataan yang mengatasnamakan Egianus membantahnya dan menyebutnya “permainan aparat militer Indonesia”. TNI tidak pernah mengonfirmasi kematian itu. Pada Juli 2026, saluran yang sama menyiarkan permohonan maafnya kepada markas pusat setelah sanksi internal, lalu mendukungnya kembali memimpin perang. [36][46][53]
Sampai berita ini disusun, tidak ada satu pun foto resmi dari kepolisian yang dirilis, dan tidak ada satu pun pengadilan yang menggugatnya. Yang tersisa: sebuah kabupaten yang kehilangan sekolah, gereja, dan jalan setapaknya; seorang buron berusia 27 tahun; dan daftar nama yang setiap tahun bertambah. [43][44]
Yang tidak kami tulis
Kami tidak menuliskan nama ibu Egianus Kogoya, jumlah saudara, istri, atau anaknya, karena tidak ada satu pun sumber publik yang bisa dipertanggungjawabkan. Ketidakhadiran data itu bukan kesalahan redaksi ini, tetapi memang tidak pernah dipublikasikan.
Kami juga tidak memakai beberapa klaim yang beredar. Alias “Kogoya Waker” tidak ditemukan dalam sumber mana pun, jadi tidak kami pakai. Klaim bahwa ia ditetapkan teroris lewat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tidak disertai dokumen resmi mana pun yang kami temukan. Dan seluruh pernyataan 2026 dari saluran yang berpihak kepada TPNPB — termasuk soal kematian dan permohonan maafnya — kami tulis sebagai klaim, bukan fakta.
Terakhir, kami tidak menulis bahwa semua kekerasan di Nduga adalah perbuatannya. Ada faksi lain di wilayah itu, ada kelompok Kodap II Baliem, ada Elkius Kobak di Seradala, dan ada aparat yang juga menembak warga sipil — beberapa kasus di Maybrat dan Nduga masih didalami lembaga hak asasi manusia. Yang kami tulis adalah apa yang diatribusikan kepadanya oleh aparat dan diakui sendiri oleh kelompoknya, dengan sumber di setiap paragraf.
Barang bukti dari markas di Nduga, April 2026Barang bukti yang disita aparat dari markas kelompok bersenjata di Nduga, April 2026: senjata api, amunisi, dan peralatan lain.Foto: Dok. Penerangan Koops TNI Habema, via IDN Times, dipakai dengan kredit
Kronologi
Pembunuhan pekerja jalan Trans-Papua bernama Yovicko Sondakh di Distrik Mugi, Nduga, disebut kepolisian sebagai aksi pertama kelompok ini.
Penembakan pesawat perintis di Bandara Kenyam: tiga warga sipil tewas, dua luka.
Guru dan tenaga kesehatan di Distrik Mapenduma disandera 14 hari; seorang guru dilaporkan diperkosa bergiliran.
Egianus Kogoya dilantik sebagai Panglima Kodap III Ndugama-Derakma.
Serangan terhadap pekerja jalan Trans-Papua di Distrik Yigi: 19 pekerja PT Istaka Karya dan satu prajurit tewas menurut Kapolri; empat hilang.
Yulius Wetipo (34) ditembak di Pasar Baru Kenyam dan meninggal di rumah sakit.
Pos Satgas Yonif Marinir-33 diserang; dua prajurit TNI tewas. Kelompok itu mengaku bertanggung jawab.
Pesawat SAM Air di Bandara Kenyam ditembaki, 15 butir peluru ditemukan.
Pembantaian Nogolait, Distrik Kenyam: 11 warga sipil tewas dan 2 luka. Tiga hari kemudian Egianus mengaku dan menyebut tidak akan berkompromi.
Pesawat Susi Air dibakar di Bandara Paro; pilot Phillip Mehrtens disandera 19 bulan.
Tiga warga sipil tewas di Kampung Yasoma, jalur Batas Batu-Kenyam: Samsul Ahmad, Sthepen Didiwai, dan Michael Rumaropen.
Pendulang emas diserang di Kali EI, Distrik Seradala, Yahukimo.
Phillip Mehrtens dibebaskan lewat pendekatan tokoh agama, gereja, tokoh adat, dan keluarga Egianus.
Wawancara Egianus kepada BBC News Indonesia: perang itu hobinya, dan warga sipil non-Papua akan ditembak.
Dua pekerja pembangunan gereja GKI Imanuel di Kampung Kwantapo, Jayawijaya, tewas ditembak: Rahmat Hidayat (45) dan Saepudin (39).
Nowaiten Telenggen ditangkap; mengaku terlibat Nogolait dan dua penembakan lain.
Kodap III menerbitkan daftar buron versi mereka untuk warga sipil yang dituduh agen intelijen, disertai ancaman eksekusi.
Dua warga luka tembak di dekat Festival Budaya Lembah Baliem, Kampung Walesi, Jayawijaya: Laode Muhammad Kojo dan Salbiah.
Tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya tewas ditembak di Distrik Muliama: Aprida Rapi', Albinus Mehan, dan Wili Mbuik.
Pasukan gabungan TNI sudah menunggu di jalur pelintasan antara Sungai Frambu dan Sungai Kamundan ketika Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Manfret Fatem berjalan masuk bersama dua komandan batalyonnya. Pria yang diburu polisi sejak 2020 dan disebut sebagai otak pembunuhan empat pekerja jalan Trans-Papua itu tewas di lokasi. Dua komandannya tewas di sungai.
Pagi itu sebelas orang naik truk dari Kenyam menuju Batas Batu, membawa beras untuk dijual, uang kembalian, dan janji akan pulang sore. Tidak satu pun dari mereka sampai di rumah.
50 sumber · 2026-10-09
Tangkapan layar: opensocietyfoundations.org, diakses 9 Oktober 2026
Dari 28 insiden yang kami dokumentasikan, 82 warga sipil Papua tewas. Sebagian diklaim kelompok bersenjata sendiri. Perusahaan di balik film yang mereka sebut membantu kampanye menerima hibah 251.983 dolar dari lembaga pimpinan George Soros.
39 sumber · 2026-10-09
Gambar: kanal Jubi TV di YouTube, film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (diunggah 22 Mei 2026)
Markas Pusat KOMNAS TPNPB memerintahkan seluruh wartawan memuat berita perang hanya dari satu pintu mereka, sehari setelah sebuah media Papua memuat pernyataan solidaritas untuk film yang kelompok itu sebut membantu kampanye operasi militer.
Rekaman yang diunggah 18 Agustus 2026 memuat seruan tembak terhadap Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, disertai larangan agar Pigai berhenti masuk Papua. Pernyataan tertulis yang menyertainya meminta PBB memasukkan namanya ke daftar hitam.
6 sumber · 2026-10-08
Foto: Satgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 (via papua60detik.id)
Selama tujuh bulan, penyidik Polda Papua menelusuri siapa yang membeli senjata, siapa yang menyumbang uang, dan siapa yang menyediakan peluru. Perkara yang bermula dari satu transaksi di pertigaan lampu merah Pasar Lama Sentani itu kini menyeret 17 tersangka, dengan barang bukti 298 butir amunisi, magazen SS1, satu senjata rakitan, dan enam laras senjata bekas Perang Dunia II.
24 sumber · 2026-10-07
Foto: Okezone, dimuat dalam laporan 4 Oktober 2026, dipakai dengan kredit
Pasukan gabungan TNI lebih dulu meminta kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya meletakkan senjata di hutan Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Sabtu malam 3 Oktober 2026. Jawabannya tembakan peluru tajam. Dua komandan mereka tewas, tidak ada prajurit yang terluka, dan Manfret Fatem melarikan diri. Dari lokasi, aparat mengamankan satu revolver, amunisi, radio komunikasi, dan dua lembar bendera Bintang Kejora.
45 sumber · 2026-10-06
Foto: WartaPlus (wartaplus.com), dipakai dengan kredit
Dari sebuah tempat di Papua Nugini, juru bicara TPNPB-OPM ini telah delapan tahun menyampaikan kalimat yang sama: kami bertanggung jawab, mereka mata-mata, dan kami akan melanjutkan. Feature ini menyusun kembali pengakuannya sendiri, lalu memeriksa dari mana uang untuk senjata itu benar-benar datang. Jawabannya bukan dari luar negeri. Berkas pengadilan menyebut oknum aparat, dana desa, tambang emas tanpa izin, dan pungutan kepada warga Papua sendiri.
80 sumber · 2026-10-06
Foto: TEDxSydney / Fe Lumsdaine (CC BY-SA 2.0), via Wikimedia Commons
Situs ini berdiri di sisi pemerintah Indonesia: Papua adalah bagian sah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan tidak ada satu pun negara di dunia yang mengakui “pemerintahan” yang ia deklarasikan. Dossier ini memeriksa klaim seorang figur di pengasingan terhadap dokumen publik — angka korban yang tak pernah terbukti, petisi yang tidak ada di Markas PBB, pembukuan yang tidak pernah dibuka — dan mencatat siapa yang membayar harganya di Tanah Papua.
90 sumber · 2026-10-06
Foto: Fajar Papua. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Selama 13 tahun ia mengantar penumpang dan logistik menembus jalur Trans Wamena–Nduga yang berat dan berbahaya, setiap hari mengorbankan dirinya demi bisa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Wamen-Nduga, namun pengorbanan itu tidak dianggap cukup berharga bagi TPNPB. Nyawanya direnggut, dicabik dengan sekejam itu. Pada 15 September 2026 ia dicegat di pertigaan Danau Habema, dipaksa mengucapkan dukungan bagi Papua Merdeka di depan kamera, lalu ditembak dan dibakar bersama mobilnya.
14 sumber · 2026-10-05
Foto: Dok. Istimewa via detikcom. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Satu guru meninggal dan enam luka di Distrik Anggruk, Yahukimo, pada Maret 2025. Di balik koreksi angka korban, ada pertanyaan yang jarang diajukan: uang layanan mengalir besar ke kabupaten ini, tetapi tidak ada satu pun anggaran untuk melindungi orang-orang yang mengajar di dalamnya.
Dua guru dari Toraja dibunuh pada 8 dan 9 April 2021 di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. Dua hari kemudian, 12 ruang sekolah dan rumah guru sudah rata dengan tanah, dan sekitar 400 anak kehilangan tempat belajar. Pemerintah menilai kerugiannya Rp 7,2 miliar. Yang belum pernah masuk hitungan siapa pun: biaya melindungi orang-orang yang mengajar di sana.
79 sumber · 2026-10-05
Phillip Mehrtens di dalam helikopter pada hari pembebasannya, 21 September 2024. Foto: Kompas.id (dipakai dengan kredit)
Pilot sipil Selandia Baru itu mendarat di Paro pada 7 Februari 2023, lalu menghilang dari dunia luar selama 19 bulan. Ini catatan lengkap dari hari pertama sampai serah terima di Jakarta — termasuk hal-hal yang sampai kini masih diperdebatkan.
Jejak organisasi dan penggalangan dana dapat diperiksa. Untuk menyatakan uang membiayai kelompok bersenjata, diperlukan rantai bukti yang menghubungkan pemberi, penerima, transaksi, dan penggunaan.