Guru, pendulang emas, sopir angkutan, pegawai dinas pertanian, kepala kampung. Dari catatan 2018 sampai 2026, satu tuduhan yang sama muncul sebelum mereka dibunuh: agen intelijen. Hampir tidak satu pun tuduhan itu pernah dibuktikan.
Pada Maret 2025, enam tenaga pendidik dan kesehatan diserang di SD YPK Anggruk, Yahukimo. Juru bicara kelompok bersenjata menyatakan korban adalah agen intelijen dan mengaku bertanggung jawab. Aparat membantah. Setelah pemantauan lapangan pada 27 April hingga 2 Mei 2025, Komnas HAM menyimpulkan pelaku serangan adalah kelompok bersenjata karena para korban dituduh agen intelijen pemerintah, dan meminta pimpinan TPNPB-OPM menghentikan kekerasan terhadap guru serta tenaga kesehatan.
Pada April 2025, tuduhan yang sama dipakai terhadap pendulang emas tradisional di Yahukimo. Human Rights Watch mencatat kelompok bersenjata mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan 17 orang yang disebut sebagai penambang, sekaligus menyerukan agar kedua pihak menghormati hukum humaniter internasional. Human Rights Monitor melaporkan sekitar 15 penambang migran tewas dalam satu serangan.
Pola itu terus berjalan sepanjang 2026. Tiga warga sipil dieksekusi di tepi Jalan Trans Papua di Seradala pada 20 Juli 2026 — sepasang suami istri dan seorang perempuan dari Suku Unaukam — dan aksinya direkam video. Kelompok bersenjata menyebut mereka agen intelijen militer; aparat membantah dan Komnas HAM menyebut peristiwa itu pembunuhan di luar hukum. Jenazah salah satu korban ditemukan di dasar longsoran, sekitar 100 meter dari lokasi penembakan, sepuluh hari kemudian.
Pada 9 September 2026, rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya dihadang dalam perjalanan dinas pulang ke Wamena. Delapan warga asli Papua dilepas; tiga pegawai yang merupakan perantau dari luar Papua ditembak mati: seorang kepala bidang peternakan berusia 49 tahun, seorang dokter hewan berusia 35 tahun, dan seorang pegawai berusia 24 tahun. Enam hari kemudian, seorang sopir angkutan umum asal Toraja dicegat di jalur Trans Wamena–Nduga, ditembak mati, dan mobilnya dibakar. Kelompok bersenjata menyebutnya agen intelijen yang menyamar; aparat menegaskan ia warga sipil yang puluhan tahun bekerja sebagai sopir.
Tuduhan itu bukan hal baru. Pada Desember 2018, sembilan belas pekerja proyek jembatan Trans Papua di Nduga ditembak mati. Kelompok yang menyerang menyatakan korban adalah prajurit; perusahaan dan aparat memastikan mereka pekerja sipil, dengan sebelas korban berasal dari Tana Toraja.
Basis data independen menunjukkan skala tuduhan ini. Penelusuran ACLED menyebut sekitar 100 penambang dibunuh di Papua sejak 2018 dengan narasi mata-mata, dan pada Mei 2026 mencatat serangan terhadap penambang di Yahukimo yang menewaskan sedikitnya sepuluh orang dan membuat ratusan mengungsi. Analisis ACLED menandai hal yang lebih mengganggu: kedua pihak, aparat negara dan kelompok bersenjata, tidak lagi menghormati ruang aman seperti gereja dan kamp pengungsi.
Yang hilang dari setiap peristiwa ini adalah pembuktian. Dalam seluruh catatan yang kami himpun, tidak ada dokumen resmi mana pun yang menunjukkan salah satu korban benar-benar anggota aparat atau bekerja untuk intelijen. Yang ada adalah pernyataan dari pihak yang mengaku membunuh. Bagi keluarga korban, kalimat itu menjadi alasan kematian seseorang yang bekerja sebagai guru, sopir, atau petani.