Korupsi di Papua 2010-2025: Uang yang Hilang, Alasan yang Dipakai untuk Menembak
Sembilan belas perkara korupsi di tanah Papua sepanjang 2010-2025. Dari yang sudah diputus, kerugian negara mencapai sekitar Rp424 miliar. Di luar itu masih ada Rp1,2 triliun estimasi KPK yang belum divonis. Angka-angka ini bukan sekadar cerita administrasi: kelompok bersenjata memakainya sebagai alasan untuk membunuh guru, menyandera perempuan, dan membakar sekolah.
Foto: Satgas Damai Cartenz via JPNN.com. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Uang yang hilang, dari Otsus sampai proyek jalan
Dari rekapitulasi perkara 2010-2025, pola korupsi di Papua berulang dalam empat bentuk. Pertama, anggaran rutin dijadikan kas pribadi: dana operasional kepala daerah, perjalanan dinas DPR, dan beasiswa otonomi khusus. Kedua, proyek infrastruktur dibayar penuh meski pekerjaan nyaris tidak ada: Boven Digoel mencairkan 100 persen padahal pekerjaan baru 2,91 persen, dan Keerom mengalihkan Rp11,19 miliar dana DAK ke pos lain. Ketiga, even besar dijadikan bancakan, seperti hibah PON XX senilai Rp2,58 triliun dengan kerugian diputus Rp204,3 miliar. Keempat, lembaga keuangan daerah dipakai untuk kredit fiktif, seperti Bank Papua Enarotali dengan fasilitas Rp188 miliar dan kerugian Rp120,62 miliar.
Mengapa ini berkaitan dengan kekerasan bersenjata
Kaitan itu bukan tuduhan bahwa setiap koruptor adalah anggota kelompok bersenjata. Kaitannya ada di tiga titik yang terdokumentasi. Pertama, kelompok bersenjata memakai korupsi sebagai legitimasi. Juru bicara TPNPB berulang kali menyebut pejabat dan guru sebagai mata-mata dan menyebut negara Indonesia sebagai pencuri, lalu memakai dalil itu untuk membenarkan pembunuhan warga sipil. Kedua, ekosistemnya bertemu: laporan Institute for Policy Analysis of Conflict mencatat kelompok bersenjata membiayai diri lewat pemerasan proyek, tambang ilegal, dan setoran oknum pejabat daerah. Ketiga, proyek yang bocor menyisakan lapangan kerja yang tidak pernah ada, sehingga keluhan warga menjadi bahan rekrutmen.
Siapa yang bicara atas nama Papua
Di antara semua suara yang mengaku mewakili rakyat Papua, satu suara jarang dikutip media asing: tokoh adat yang menolak kekerasan. Pada 19 Oktober 2023, Ketua Wilayah Adat La Pago, Yuranus Jikwa atau Agus Rawa Kogoya, menyatakan aksi TPNPB-OPM sudah melenceng dan merupakan kekerasan murni, bukan perjuangan kemerdekaan. Ia menegaskan bahwa dalam logika perang pun lawan adalah aparat, bukan warga sipil: masyarakat sipil, baik orang Papua maupun pendatang, tidak boleh menjadi korban tembak.
Kogoya juga menyoroti pola pernyataan juru bicara TPNPB Sebby Sambom: mengaku bertanggung jawab ketika korban berjatuhan dari pihak aparat, tetapi tidak mau mengaku ketika warga sipil yang mati. Pola itu berulang di halaman-halaman situs ini: klaim tanggung jawab atas penembakan aparat, dan keheningan ketika guru, perempuan, atau pendulang emas yang menjadi korban.
Wajah politik gerakan ini adalah United Liberation Movement for West Papua yang dipimpin Benny Wenda dari Inggris. Kampanye Free West Papua yang ia dirikan menyatakan dananya berasal dari donasi, penjualan merchandise, penggalangan publik, dan hibah yayasan, dengan pendukung yang mereka cantumkan sendiri antara lain Bertha Foundation dan Lush. Mereka yang mengarahkan narasi bekerja dari meja kantor di Eropa, sementara yang mati di kampung adalah guru, ibu, dan anak-anak yang namanya tidak pernah masuk siaran pers.
Yang tidak boleh diklaim
Dari sembilan belas perkara ini, tidak satu pun putusan pengadilan menyatakan pelakunya berkaitan dengan OPM atau TPNPB. Menyebut semua kasus sebagai perbuatan kelompok bersenjata justru merusak kredibilitas laporan dan memberi mereka amunisi untuk membantah. Yang bisa disampaikan adalah rangkaian sebab: uang rakyat hilang, janji pembangunan tidak datang, dan kekerasan menjadi bahasa yang dipakai untuk mengisi kekosongan itu.
Korban yang tidak masuk anggaran
Di halaman lain situs ini terdokumentasi harga dari kekerasan yang memakai korupsi sebagai alasan: enam guru dibunuh dan puluhan ruang kelas dibakar di Yahukimo dan Puncak, sembilan perempuan dan anak disandera di Jila, pendulang emas dieksekusi di Muara Kum dan Kawe, serta sopir dan pekerja proyek ditembak di jalur Trans-Papua. Angka kerugian negara dihitung dalam rupiah. Korban-korban ini tidak pernah masuk ke dalam perhitungan itu.
Dana otonomi khusus adalah janji damai: uang negara ditukar dengan harapan bahwa sekolah, puskesmas dan jalan di Papua membaik. Tiga perkara menunjukkan apa yang terjadi ketika janji itu berhenti di meja pejabat: LPMP Papua Rp43 miliar, perjalanan dinas DPR Papua Rp44,2 miliar, dan penyimpangan beasiswa Otsus 2017.
2 sumber · 2026-10-21
Foto: dok. istimewa, dimuat detikcom 9 Oktober 2026, dipakai dengan kredit.
Di Boven Digoel, dana dicairkan 100 persen sementara pekerjaan baru 2,91 persen. Di Keerom, Rp11,19 miliar dana DAK dialihkan ke pos lain. Di Mamberamo Raya, jalan dibayar meski pekerjaan tidak dilaksanakan. Di Mimika, proyek Aerosport Rp79,13 miliar berujung kerugian Rp31,30 miliar. Empat proyek, satu pola.
2 sumber · 2026-10-20
Foto: BBC News Indonesia (rilis TPNPB), dipakai dengan kredit.
PON XX 2021 adalah even paling mahal yang pernah digelar di Papua, dan momen ketika Jakarta ingin menunjukkan bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia. Dua hal terjadi bersamaan: even itu digelar, dan uangnya bocor. Empat pejabat panitia divonis, kerugian negara diputus Rp204,3 miliar.
1 sumber · 2026-10-19
Foto: dok. istimewa, dimuat detikcom 9 Februari 2023, dipakai dengan kredit.
Cadangan beras pemerintah dibuat untuk menahan harga di daerah rawan. Di Wamena, beras yang seharusnya dijual Rp8.900 per kilogram berakhir di tangan warga dengan harga hingga Rp20.000. Kerugian negara Rp8,93 miliar, empat tersangka, dan harga pangan yang tetap mahal di pegunungan.
1 sumber · 2026-10-18
Foto: dok. istimewa, dimuat detikcom 9 Oktober 2026, dipakai dengan kredit.
Bank pembangunan daerah seharusnya menjadi saluran modal bagi pengusaha kecil di Papua. Di Cabang Enarotali, 47 fasilitas kredit modal kerja konstruksi dipakai untuk perusahaan fiktif dan dokumen yang dimanipulasi. Kerugian negara Rp120,62 miliar, empat terdakwa divonis, satu di antaranya 13 tahun penjara.
1 sumber · 2026-10-17
Foto: BBC News Indonesia (rilis TPNPB), dipakai dengan kredit.
Lukas Enembe dijatuhi 8 tahun penjara dalam perkara suap dan gratifikasi; di tingkat banding menjadi 10 tahun dengan uang pengganti Rp47,83 miliar. Ricky Ham Pagawak divonis 13 tahun dengan uang pengganti Rp209,3 miliar. Eltinus Omaleng didakwa dalam perkara gereja Rp46 miliar. Tiga nama, satu akibat: wibawa negara di Papua terkikis dari dalam.
2 sumber · 2026-10-16
Foto: Dok. Dispen Kormar TNI AL via Kompas.com, 14 Oktober 2026
Empat pekerja jalan Trans-Papua ditembak mati di perbatasan Teluk Bintuni–Maybrat pada 29 September 2022, lalu dua truk proyek dan dua ekskavator dibakar. Pengakuan kelompok bersenjata OPM menempatkan penyerangan itu di bawah Kodap IV Sorong Raya, komando tempat Zakarias Fatem menjabat wakil panglima. Lima tahun sebelumnya hingga kini, komando yang sama tercatat menyerang pos aparat, pekerja, dan proyek pembangunan di Maybrat dan koridor Moskona.
Seorang guru ditembak mati di sebuah ruko di Kota Dekai, Yahukimo, 11 Oktober 2026. Kelompok bersenjata yang mengaku sebagai TPNPB Kodap XVI menyatakan bertanggung jawab, lalu mengumumkan daftar warga sipil berikutnya: tukang bangunan, tukang ojek, sopir taksi, penjual bakso, pemilik kios, sampai warga pendatang.
18 sumber · 2026-10-12
Foto: dok. istimewa, dimuat detikcom 9 Februari 2023, dipakai dengan kredit
Egianus Kogoya lahir di Distrik Mugi pada 1999, putus sekolah di Wamena, dan dilantik menjadi panglima Kodap III Ndugama-Derakma pada 16 Oktober 2018. Ayahnya salah satu penyandera tim ekspedisi Lorentz tahun 1996. Sejak 2017, kepolisian mencatat 65 aksi kekerasan atas nama kelompoknya: pekerja jalan, guru, tenaga kesehatan, pendeta, ustaz, sopir, dan tiga pegawai pertanian. Egianus Kogoya masih buron.
57 sumber · 2026-10-11
Foto: ANTARA/HO-Penerangan Koops TNI Habema, 9 Oktober 2026, dipakai dengan kredit
Pasukan gabungan TNI sudah menunggu di jalur pelintasan antara Sungai Frambu dan Sungai Kamundan ketika Komandan Operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Manfret Fatem berjalan masuk bersama dua komandan batalyonnya. Pria yang diburu polisi sejak 2020 dan disebut sebagai otak pembunuhan empat pekerja jalan Trans-Papua itu tewas di lokasi. Dua komandannya tewas di sungai.
Pagi itu sebelas orang naik truk dari Kenyam menuju Batas Batu, membawa beras untuk dijual, uang kembalian, dan janji akan pulang sore. Tidak satu pun dari mereka sampai di rumah.
50 sumber · 2026-10-09
Tangkapan layar: opensocietyfoundations.org, diakses 9 Oktober 2026
Dari 28 insiden yang kami dokumentasikan, 82 warga sipil Papua tewas. Sebagian diklaim kelompok bersenjata sendiri. Perusahaan di balik film yang mereka sebut membantu kampanye menerima hibah 251.983 dolar dari lembaga pimpinan George Soros.
38 sumber · 2026-10-09
Gambar: kanal Jubi TV di YouTube, film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (diunggah 22 Mei 2026)
Markas Pusat KOMNAS TPNPB memerintahkan seluruh wartawan memuat berita perang hanya dari satu pintu mereka, sehari setelah sebuah media Papua memuat pernyataan solidaritas untuk film yang kelompok itu sebut membantu kampanye operasi militer.
Rekaman yang diunggah 18 Agustus 2026 memuat seruan tembak terhadap Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, disertai larangan agar Pigai berhenti masuk Papua. Pernyataan tertulis yang menyertainya meminta PBB memasukkan namanya ke daftar hitam.
6 sumber · 2026-10-08
Foto: Satgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 (via papua60detik.id)
Selama tujuh bulan, penyidik Polda Papua menelusuri siapa yang membeli senjata, siapa yang menyumbang uang, dan siapa yang menyediakan peluru. Perkara yang bermula dari satu transaksi di pertigaan lampu merah Pasar Lama Sentani itu kini menyeret 17 tersangka, dengan barang bukti 298 butir amunisi, magazen SS1, satu senjata rakitan, dan enam laras senjata bekas Perang Dunia II.
24 sumber · 2026-10-07
Foto: Okezone, dimuat dalam laporan 4 Oktober 2026, dipakai dengan kredit
Pasukan gabungan TNI lebih dulu meminta kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya meletakkan senjata di hutan Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Sabtu malam 3 Oktober 2026. Jawabannya tembakan peluru tajam. Dua komandan mereka tewas, tidak ada prajurit yang terluka, dan Manfret Fatem melarikan diri. Dari lokasi, aparat mengamankan satu revolver, amunisi, radio komunikasi, dan dua lembar bendera Bintang Kejora.
45 sumber · 2026-10-06
Foto: WartaPlus (wartaplus.com), dipakai dengan kredit
Dari suatu tempat di Papua Nugini, Sebby Sambom selama delapan tahun menyampaikan pola pernyataan yang hampir tidak berubah, kami bertanggung jawab, mereka adalah mata-mata, dan aksi akan terus berlanjut.
Nama korbannya berganti-ganti dari pekerja jalan, guru, tenaga kesehatan, pendulang emas, sopir, hingga pilot sipil. Alasannya nyaris selalu sama.
Tulisan ini menyusun kembali pernyataan-pernyataan itu sejak 2018 hingga 2026, lalu mengujinya terhadap dokumen pengadilan, keterangan pemerintah daerah, catatan lembaga resmi, dan sumber yang dapat diperiksa. Dari sana muncul dua pertanyaan yang lebih besar, apakah tuduhan terhadap para korban pernah dibuktikan, dan dari mana uang serta senjata untuk mempertahankan konflik itu sebenarnya berasal?
Jejak dokumennya menghasilkan gambaran yang berbeda dari narasi yang selama ini beredar. Panggung politiknya memang mencapai luar negeri. Tetapi perkara-perkara yang telah masuk ruang pengadilan menunjukkan bahwa sebagian senjata, amunisi, dan uang justru bergerak dari dalam negeri, melalui oknum aparat, dana desa, tambang emas tanpa izin, hingga pemerasan terhadap masyarakat Papua sendiri.
Di sinilah muncul sebuah ironi yang sulit diabaikan, kelompok yang mengklaim berjuang untuk masyarakat Papua justru memperoleh sebagian sumber dananya dari orang-orang yang mereka klaim bela.
80 sumber · 2026-10-06
Foto: TEDxSydney / Fe Lumsdaine (CC BY-SA 2.0), via Wikimedia Commons
Situs ini berdiri di sisi pemerintah Indonesia: Papua adalah bagian sah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan tidak ada satu pun negara di dunia yang mengakui “pemerintahan” yang ia deklarasikan. Dossier ini memeriksa klaim seorang figur di pengasingan terhadap dokumen publik — angka korban yang tak pernah terbukti, petisi yang tidak ada di Markas PBB, pembukuan yang tidak pernah dibuka — dan mencatat siapa yang membayar harganya di Tanah Papua.
90 sumber · 2026-10-06
Foto: Dok. Istimewa via detikcom. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Satu guru meninggal dan enam luka di Distrik Anggruk, Yahukimo, pada Maret 2025. Di balik koreksi angka korban, ada pertanyaan yang jarang diajukan: uang layanan mengalir besar ke kabupaten ini, tetapi tidak ada satu pun anggaran untuk melindungi orang-orang yang mengajar di dalamnya.
Dua guru dari Toraja dibunuh pada 8 dan 9 April 2021 di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. Dua hari kemudian, 12 ruang sekolah dan rumah guru sudah rata dengan tanah, dan sekitar 400 anak kehilangan tempat belajar. Pemerintah menilai kerugiannya Rp 7,2 miliar. Yang belum pernah masuk hitungan siapa pun: biaya melindungi orang-orang yang mengajar di sana.
79 sumber · 2026-10-05
Phillip Mehrtens di dalam helikopter pada hari pembebasannya, 21 September 2024. Foto: Kompas.id (dipakai dengan kredit)
Pilot sipil Selandia Baru itu mendarat di Paro pada 7 Februari 2023, lalu menghilang dari dunia luar selama 19 bulan. Ini catatan lengkap dari hari pertama sampai serah terima di Jakarta — termasuk hal-hal yang sampai kini masih diperdebatkan.
35 sumber · 2026-10-05
Foto: Fajar Papua. Hak cipta tetap pada pemiliknya.
Selama 13 tahun ia mengantar penumpang dan logistik menembus jalur Trans Wamena–Nduga yang berat dan berbahaya, setiap hari mengorbankan dirinya demi bisa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Wamen-Nduga, namun pengorbanan itu tidak dianggap cukup berharga bagi TPNPB. Nyawanya direnggut, dicabik dengan sekejam itu. Pada 15 September 2026 ia dicegat di pertigaan Danau Habema, dipaksa mengucapkan dukungan bagi Papua Merdeka di depan kamera, lalu ditembak dan dibakar bersama mobilnya.
Jejak organisasi dan penggalangan dana dapat diperiksa. Untuk menyatakan uang membiayai kelompok bersenjata, diperlukan rantai bukti yang menghubungkan pemberi, penerima, transaksi, dan penggunaan.